Dengan berselancar di website kami, Anda setuju dengan Kebijakan Privasi kami.
Accept
Teras7.comTeras7.com
  • INDEKS BERITA
  • NEWS
    • Nasional
    • Berita Umum
    • Ekonomi
    • Layanan Publik
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Banjir KalSel
  • LIFE
    • Education
    • Lifestyle
    • Teknologi
    • Kilas Balik
  • HEALTH
  • TRAVEL
  • FOOD
Search
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Reading: Kembalinya Riak-Riak Sastra di Bumi Ije Jela (?)
Share
Sign In
Notification Show More
Aa
Teras7.comTeras7.com
Aa
Search
  • Indeks Berita
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Budaya
  • Opini
  • Education
  • Ekonomi
  • Video
  • Berita Umum
  • Environment
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Kilas Balik
  • Kuliner
  • Layanan Publik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Religi
  • Sosial
  • Teknologi
  • Travel
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Screenshot 2023 0121 003444

Kembalinya Riak-Riak Sastra di Bumi Ije Jela (?)

Kita nampaknya harus terus berharap agar perkembangan sastra di Batola bukan sekadar terlihat seperti riak-riak Sungai Barito, tetapi dapat menjadi gelombang yang lebih besar dan terus ada.

Opini
Opini 20 Januari 2023, 23.34
Share
Muhammad Noor Fadillah. (Ist)
SHARE

Oleh: Muhammad Noor Fadillah
(Anggota Dewan Kesenian Kabupaten Barito Kuala)


Malam itu ada yang berbeda dari biasanya. Dari sebuah panggung di salah satu sudut Lapangan 5 Desember Marabahan, terdengar sahut-sahutan pembacaan puisi. Diiringi alunan musik, mulai dari pelajar hingga orang dewasa dengan lepas mengekspresikan perasaan mereka lewat kata-kata nan puitis. Membuat malam itu terasa lebih istimewa khususnya bagi para pecinta sastra.

Saya sendiri selama di Marabahan rasa-rasanya baru kali pertama itu melihat ada pembacaan puisi di Lapangan 5 Desember lengkap dengan sorot lampu, sound system yang mantap, dan musik pengiring. Atau bisa juga sih saya yang memang tidak tahu menahu tentang acara semacam ini sebelumnya.

Meskipun jumlah penontonnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan penonton dangdut, tetapi tak jadi masalah. Adanya pembacaan puisi yang dapat dinikmati masyarakat saja sudah perlu kita apresiasi.

Bicara tentang puisi atau yang lebih luas lagi yaitu sastra di Barito Kuala, sependek pengetahun saya keadaannya selama ini seperti “timbul tenggelam”. Kadang-kadang ada dan lebih sering tidak ada.

Baca juga :

Secangkir Kopi dan Pesan dari Sultan: Menemukan Ruh Majapahit di Banjar

Integritas DPR Menentukan Arah Pemilihan

Gemar Menabung, Publik Buntung

Sebagai contoh, pada 2016 silam Barito Kuala pernah mengadakan acara sastra nasional, yaitu Tifa Nusantara 3. Acara tersebut sukses diselenggarakan di Marabahan dengan menghadirkan puluhan penulis dari berbagai wilayah di Indonesia.

Kesuksesan acara juga terlihat pada penerbitan buku antologi puisi berjudul Ije Jela. Berdasarkan catatan kurator, pada awal pengumpulan puisi terdapat 1.713 puisi yang masuk. Beberapa penulis bahkan ada yang berasal dari Malaysia dan Pattani Thailand.

Akan tetapi setelah sukses penyelenggaraan Tifa Nusantara 3, tidak terdengar lagi adanya acara semegah itu atau bahkan dalam skala yang lebih kecil lagi. Entah apa penyebabnya.
Begitupun dalam hal penerbitan buku antologi sastra bersama.

Barito Kuala selama ini masih tertinggal dibandingkan daerah di Kalsel lainnya. Seperti yang dituliskan Syarkian Noor Hadie dalam sambutannya pada buku antologi puisi berjudul Pada Suatu Hari di Bumi Ije Jela.

Berdasarkan catatan mantan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Barito Kuala ini, penerbitan buku antologi puisi bersama penyair Barito Kuala terakhir kali pada 2013. Pada tahun-tahun berikutnya Barito Kuala sepi dari penerbitan buku antologi puisi bersama.

Barulah pada tahun 2019 terbit buku antologi puisi berjudul Pada Suatu Hari di Bumi Ije Jela yang berhasil mengumpulkan 20 penyair Barito Kuala. Itu artinya dalam kurun waktu 2013 hingga 2019 telah terjadi “kekosongan karya sastra” di Barito Kuala.

Meskipun bukan berarti semua penyair Barito Kuala tak berkarya selama itu. Beberapa penyair dan penulis masih eksis dan turut berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan sastra di daerah lain. Hanya saja masih disayangkan karena di Batola sendiri masih minim pembukuan karya sastra.

Kabar baiknya beberapa tahun belakangan ini kita melihat perkembangan sastra di Barito Kuala kembali menggeliat. Diawali pada tahun 2020 dengan terbentuknya komunitas literasi bernama Komunitas Perahu Kata.

Selain mewadahi para penulis di Marabahan (yang sebelumnya “bercerai-berai”), pada awal tahun 2022 komunitas tersebut mampu menerbitkan buku antologi puisi penyair Batola berjudul Peramu Kata. Buku yang diterbitkan bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Batola ini memuat karya dari 7 penyair Marabahan yang sekaligus anggota komunitas.

Selanjutnya buku tersebut dibagikan ke banyak sekolah di Barito Kuala serta ke para sastrawan senior di Kalimantan Selatan.

Berdasarkan informasi yang ada pada akun instagram mereka, @perahukata.batola, komunitas ini rencananya akan kembali menerbitkan buku antologi puisi penyair Barito Kuala. Beberapa nama penulis baru mulai bermunculan. Semoga saja ini dapat menjadi langkah maju untuk regenerasi sastrawan. Kita tunggu saja kabar baiknya.

Kemudian pada akhir tahun 2022, Dewan Kesenian Kabupaten Barito Kuala menutup tahun dengan menggelar kegiatan Malam Apresiasi Seni bertempat di Panggung Gelora Marabahan. Kegiatan yang terbuka untuk umum itu menampilkan seni tari, menyanyi, dan baca puisi.

Di awal tahun ini Pemerintah Daerah melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Barito Kuala memberikan “karpet merah” kepada para sastrawan dengan mengadakan Pagelaran Seni dan Sastra. Pada kesempatan itu ditampilkan pembacaan puisi, menyanyi, dan dramatisasi puisi. Kegiatan tersebut sekaligus memeriahkan Pasar Rakyat yang diadakan dalam rangka Hari Jadi Batola ke-63.

Sebenarnya terlalu dini jika mengambil kesimpulan bahwa sastra di Batola bangkit kembali. Karena bisa saja ini hanyalah euforia sesaat yang pada akhirnya memilik nasib sama seperti sebelumnya; timbul tenggelam.

Namun kita nampaknya harus terus berharap agar perkembangan sastra di Batola bukan sekadar terlihat seperti riak-riak Sungai Barito, tetapi dapat menjadi gelombang yang lebih besar dan terus ada. Gelombang yang akan membawa peradaban kita ke arah yang lebih baik lagi. Semoga saja.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Print
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Surprise0
Leave a review Leave a review

Leave a review Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Populer Bulan Ini

83f51e18 4109 435a b616 14b65b7d5d3c
Rugikan PT AGM, Terdakwa Akui Surat Tanah Dicetak Mundur Tahun 2017 dalam Sidang di PN Kandangan
28 Juli 2026, 13.22
20260726 193045
Bupati Taufik Sampaikan 3 Pesan kepada 62 Pendeta HKBP yang Baru Ditahbiskan di Asahan
26 Juli 2026, 17.48
download 5
Tak Patuhi Ketentuan, Sejumlah Warung Kopi di Kertak Hanyar dan Mali-Mali Diberi SP1
4 Agustus 2026, 09.15
IMG 20260806 191642
Supian HK Pastikan DPRD Cari Solusi Atasi Gejolak Perunggasan di Banua
6 Agustus 2026, 19.19
DJI 20260806093249 0177 Dbjbtv
Bye-Bye Macet! Wali Kota Lisa Percepat Pembangunan Jalan Lingkar Selatan Banjarbaru
7 Agustus 2026, 22.15

You Might Also Like

Secangkir Kopi dan Pesan dari Sultan: Menemukan Ruh Majapahit di Banjar

Integritas DPR Menentukan Arah Pemilihan

Gemar Menabung, Publik Buntung

Rasionalisme di Era Post-Truth: Saat Akal Sehat Jadi Barang Langka

Dari Mitos ke Sains: Empirisme dan Perjalanan Manusia Mencari Kebenaran

Teras7.comTeras7.com
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
Selamat Datang!

Masuk ke akun

Register Lost your password?