TERAS7.COM – Ada hal yang menarik dalam pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Banjar tahun 2019 di Hortensia Ballroom, Hotel Rodhita Banjarbaru pada kamis siang (4/4).
Saat sesi diskusi dalam pembukaan musrenbang ini, aksi seorang peserta yang mengajukan aspirasinya membuat banyak peserta lain terperangah.
Pasalnya, selain menyampaikan aspirasinya dengan bahasa yang baik dan lancar tanpa gugup di hadapan para pemangku kebijakan, ternyata si peserta tersebut masih berstatus sebagai pelajar.

Keberanian si peserta ini mendapatkan apresiasi langsung dari Sekretaris Daerah (Sekda) Banjar, H. Nasrun Syah yang bertindak sebagai salah satu narasumber dalam sesi diskusi yang dimoderatori oleh Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kabupaten Banjar, Galuh Tantri Narindra.
“Saya terkesan dengan kemampuan si peserta ini. Saya instruksikan bagi dinas terkait agar bisa merekrut si peserta ini. Ternyata dia masih sekolah di bangku SMP, jadi kami tawarkan untuk menjadi penyiar radio mingguan acara anak anak, nanti saya koordinasikan dengan dinas kominfo,” kata Nasrun Syah usai mendengar si peserta menyalurkan aspirasinya.
Usai pelaksanaan pembukaan musrenbang, Teras7.com berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan si peserta yang memukau peserta musrenbang yang lain.

Tajmilla (15) namanya, siswi SMP 3 Martapura kelas 9 ini hadir di Musrenbang dan berbicara mewakili Forum Anak Daerah Kabupaten Banjar.
Tajmilla mengaku sangat senang dapat mengikuti musrenbang kali ini, apalagi aspirasinya di dengar oleh pemangku kebijakan.
“Saya bersyukur respon baik dari Pak Sekda, moderator dan panelis lain yang mendengar suara anak-anak dalak pembangunan,” ujar Sekretaris Forum Anak Daerah Kabupaten Banjar ini.
Ia menambahkan berdasarkan undang-undang, anak-anak memiliki hak untuk berpartisipasi dan ikut serta dalam prmbangunan.
“Hak kami sebagai anak-anak untuk ikut dalam musrenbang dan aspirasinya didengar. Karena anak-anak dalam pembangunan bukan hanya menjadi objek saja, tapi juga harus menjadi subjek,” terangnya.

Tajmilla juga gembira mendapatkan tawaran dari Sekda Banjar untuk mengisi siaran radio sebagai penyiar untuk melakukan penyuluhan mengenai hak anak untuk mendapatkan kelayakan, kenyamanan dan keamanan.
Tajmilla juga menjelaskan poin-poin yang disampaikannya saat pelaksanaan diskusi musrenbang, diantaranya perjuangan bagi anak untuk mendapatkan fasilitas yang ramah anak di Kabupaten Banjar.
“Saya tadi menyanpaikan agar program pelayanan publik dan sektor pariwisata yang dibangun pemerintah agar jangan sampai melupakan fasilitas ramah anak, termasuk tidak boleh asap rokok dan disediakan pojok bermain bagi anak-anak yang dibawa orang tua ke fasilitas publik,” urainya.
Ia juga menyoroti fasilitas bermain baik anak-anak untuk bermain seperti di RTH Cahaya Bumi Selamat yang sudah ada, tapi tidak lagi memenuhi standar keamanan bagi anak.

“Saya mewakili anak-anak di Kabupaten Banjar meminta agar fasilitas tersebut ditinjau lagi oleh pemerintah. Juga RTH Demang Lehman yang sudah jadi dan memiliki lahan yang luas, sayangnya belum ada fasilitas bermain bagi anak-anak. Ini yabt kami garis bawahi bagi Pemerintah Kabupaten Banjar dan SKPD terkait,” jelas Tajmilla.
Terakhir ia juga meminta agar pemerintah meningkatkan sumber daya melalui pendidikan, tidak hanya melalui pendidikan formal saja, tapi juga melalui pendidikan informal.
“Untuk realisasinya kami meminta dibangunkan sanggar seni oleh Dinas terkait, di mana disana diajarkan kesenian daerah seperti madihin dan kalau bisa gratis bagi anak-anak yang berunur dibawah 18 tahun. Juga tidak dibatasi anak tersebut sekolah atau tidak. Ini poin terakhir yang kami sampaikan terakhir,” tutupnya.