TERAS7.COM – Anggota DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari SE, memberikan sejumlah catatan penting terhadap peluncuran aplikasi E-Lapor yang dihadirkan SMA Negeri 2 Banjarbaru bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 sekolah tersebut, Kamis (12/02/2026).
Emi menyambut baik inovasi yang dilakukan pihak sekolah dalam menghadirkan aplikasi sebagai sarana komunikasi dan pengaduan siswa. Namun, ia menilai karena aplikasi tersebut masih tergolong baru, perlu adanya evaluasi dan penyempurnaan ke depan.
“Kami sangat menyambut baik peluncuran aplikasi E-Lapor oleh SMAN 2. Hanya saja, karena aplikasi ini masih baru, tentu ada beberapa masukan yang perlu kami sampaikan kepada pihak sekolah,” ujarnya.
Menurut Emi, tujuan utama aplikasi ini sangat positif, yakni untuk mendeteksi sejak dini berbagai persoalan yang terjadi pada siswa. Dengan demikian, setiap masalah yang dialami siswa dapat terfasilitasi dengan baik dan ditangani lebih cepat oleh pihak sekolah.
Ia menekankan pentingnya sekolah berperan sebagai wadah yang nyaman bagi siswa untuk berkeluh kesah, sehingga persoalan yang muncul tidak berkembang menjadi lebih besar.
“Mendeteksi perilaku anak itu sangat penting. Pertama, untuk mengenali masalah yang mungkin timbul, baik akademik, sosial, maupun emosional. Kedua, untuk mencegah persoalan yang lebih besar seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, atau kekerasan,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Emi, deteksi dini juga dapat meningkatkan hubungan antara orang tua dan anak, karena orang tua dapat lebih memahami kondisi yang dihadapi anaknya. Di sisi lain, hal tersebut juga membangun kepercayaan, sebab anak merasa diperhatikan dan dipahami.
Ia menilai, dunia pendidikan saat ini memang dituntut untuk membentuk karakter siswa melalui pendekatan yang lebih humanis. Tidak boleh ada sekat antara orang tua dan anak, maupun antara guru dan siswa.
“Guru juga harus bisa memfungsikan diri sebagai kawan ketika siswa menghadapi masalah, sehingga tercipta rasa nyaman. Kedekatan itu penting untuk mendeteksi persoalan-persoalan yang terjadi,” katanya.
Emi mengingatkan bahwa usia SMA merupakan fase yang sangat rentan. Berbagai tantangan kerap dihadapi remaja, mulai dari penyalahgunaan narkoba, perkelahian antar pelajar, perundungan (bullying), hingga perilaku menyimpang lainnya.
Oleh karena itu, menurut Emi menciptakan sekolah yang ramah menjadi tujuan utama dari peluncuran aplikasi tersebut.
Meski demikian, Politisi PAN ini memberikan catatan penting terkait jaminan perlindungan identitas pelapor.
Menurutnya, sekolah harus memastikan data siswa yang melapor benar-benar aman agar tidak menimbulkan persoalan baru.
“Misalnya, jika yang dilaporkan adalah guru, atau jika laporan terjadi antar sesama siswa, jangan sampai memicu gesekan sosial baru,” tegasnya.
Selain aspek teknis, Emi juga menyoroti penamaan aplikasi. Ia menilai nama E-Lapor terkesan terlalu formal dan memiliki konotasi yang menakutkan bagi siswa SMA. Apalagi, nama tersebut sudah identik dengan aplikasi aduan milik pemerintah.
Alumni SMAN 2 Banjarbaru ini menyarankan agar dilakukan rebranding, dengan mengganti nama aplikasi menjadi lebih kekinian dan dekat dengan generasi muda, seperti E-Curhat atau E-Ceritaku,
“Jadi siswa tidak menganggap aplikasi itu semata-mata untuk melapor, tetapi juga sebagai ruang berbagi cerita, baik persoalan pribadi maupun masalah di sekolah,” pungkasnya.