TERAS7.COM – Pemerintah Kota Banjarbaru terus memperkuat komitmen menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan daerah.
Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah penetapan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum, kawasan budaya hidup berbasis sejarah, tradisi, dan kearifan lokal.
Usulan tersebut disampaikan langsung Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby, saat melakukan pertemuan dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, di Jakarta.
Melalui konsep Living Museum, Cempaka diproyeksikan tidak hanya sebagai ruang pelestarian budaya, tetapi juga pusat edukasi dan destinasi wisata sejarah yang berkelanjutan.
Wali Kota Lisa menegaskan, pengembangan Cempaka sebagai Living Museum merupakan langkah strategis dalam menjaga identitas daerah sekaligus menghidupkan kembali sejarah panjang pendulangan intan tradisional yang telah menjadi bagian penting perjalanan Banjarbaru.
Salah satu narasi utama yang diangkat dalam konsep tersebut adalah sejarah penemuan Intan Trisakti, intan mentah terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia dengan berat 166,75 karat.
Intan bersejarah itu ditemukan pada 26 Agustus 1965 di kawasan Pumpung, Cempaka, oleh 24 pendulang yang dipimpin H Matsam, dan kemudian dinamai langsung oleh Presiden Soekarno sebagai simbol kesaktian dan kedaulatan bangsa.
Melalui Living Museum, kisah perjuangan para pendulang intan yang selama ini jarang tersorot diharapkan dapat dihadirkan kembali secara utuh. Tidak hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi menjadi media pembelajaran sejarah bagi generasi muda serta pengalaman wisata autentik bagi pengunjung.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyambut baik inisiatif Pemerintah Kota Banjarbaru. Ia menyatakan dukungan terhadap pengembangan Cempaka sebagai kawasan budaya hidup, termasuk pendampingan teknis agar konsep Living Museum dapat berjalan terarah dan berkelanjutan.
Dengan penguatan nilai sejarah Intan Trisakti dan tradisi pendulangan intan, Cempaka diharapkan tumbuh sebagai ruang hidup kebudayaan yang mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, sekaligus memperkuat posisi Banjarbaru sebagai kota yang berakar kuat pada warisan sejarah dan budaya Banua.