Dengan berselancar di website kami, Anda setuju dengan Kebijakan Privasi kami.
Accept
Teras7.comTeras7.com
  • INDEKS BERITA
  • NEWS
    • Nasional
    • Berita Umum
    • Ekonomi
    • Layanan Publik
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Banjir KalSel
  • LIFE
    • Education
    • Lifestyle
    • Teknologi
    • Kilas Balik
  • HEALTH
  • TRAVEL
  • FOOD
Search
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Reading: Identik Dengan Kota Makhluk Gaib, Ini Fakta Kota Saranjana
Share
Sign In
Notification Show More
Aa
Teras7.comTeras7.com
Aa
Search
  • Indeks Berita
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Budaya
  • Opini
  • Education
  • Ekonomi
  • Video
  • Berita Umum
  • Environment
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Kilas Balik
  • Kuliner
  • Layanan Publik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Religi
  • Sosial
  • Teknologi
  • Travel
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Identik Dengan Kota Makhluk Gaib, Ini Fakta Kota Saranjana

Rizki Saputera
Rizki Saputera 8 Agustus 2020, 17.09
Share
IMG 20200808 WA0018
SHARE

TERAS7.COM – Mendengar kata Saranjana, pasti sebagian orang akan membayangkan sebuah kota gaib yang ada di Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Pasalnya dalam berbagai penelusuran di internet, nama Saranjana selalu dikaitkan dengan sebuah kota yang konon katanya dihuni makhluk gaib dan punya peradaban yang modern.

Bagi masyarakat Kalimantan Selatan sendiri, kota ini dikatakan terletak di sebuah bukit kecil di Desa Oka-Oka Kecamatan Pulau Laut Kelautan, Kabupaten Kotabaru, berbatasan langsung dengan laut dengan pemandangan yang indah, tapi dianggap angker bagi penduduk sekitar.

Yang lebih mencengangkan lagi, walaupun kota ini tak tercatat dalam peta Indonesia modern, tapi keberadaannya eksis dalam beberapa peta di zaman Hindia Belanda.

IMG 20200808 WA0019

Baca juga :

HubFest 2026 Tandai Dimulainya Operasional Trans Saijaan di Kotabaru

GOW Kotabaru dan Persit Kodim 1004 Bahas Pentingnya Kesehatan Mental Perempuan

Legislator Kotabaru Doakan Jamaah Haji Diberi Kelancaran dan Jadi Mabrur

Seperti peta buatan Salomon Muller, naturalis Jerman yang berjudul Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Banjermasing behoorende tot de Reize in het zuidelijke gedelte van Borneo (Peta Wilayah Pesisir & Pedalaman Borneo) tahun 1845 yang mengambarkan wilayah dengan nama Tandjong Serandjana.

Tandjong Serandjana ini terletak di sebelah selatan Pulau Laut berbatasan dengan wilayah Poeloe Kroempoetan (Pulau Kerumputan) dan Poeloe Kidjang (Pulau Kijang).

Nama wilayah Saranjana juga muncul di tahun 1913 dalam peta “Sketch map of the Residency Southern and Eastern Division of Borneo” tahun 1913 yang menuliskan adanya wilayah Saranjana/T. Sarang Djanak.

Sumber lainnya berasal dari PJ Veth, dalam kamus terbitan P.N. van Kampen tahun 1869, Veth menuliskan “Sarandjana, tanjung di sisi selatan Poeloe Laut, sebuah pulau di tenggara Kalimantan,” yang secara terminologi kalau dikomparasikan kosakata India, “Saranjana” berarti tanah yang diberikan.

Dosen PSP Sejarah FKIP ULM Banjarmasin, Mansyur dalam salah satu postingnya di instagram pribadinya (@sammyxnyder_istorya) mengatakan mitos wilayah Saranjana dalam persfektif ilmiah ini memunculkan beberapa dugaan pendapat sementara.

“Satu diantaranya, bahwa Saranjana adalah wilayah kekuasaan Suku Dayak yang bermukim di Pulau Laut (Dayak Pulau Laut). Terdapat versi bahwa suku Dayak di Pulau Laut era itu, adalah sub Suku Dayak Samihim. Sub-etnis suku Dayak yang mendiami daerah timur laut Kalimantan Selatan, dengan kehidupan semi nomaden,” ujarnya.

IMG 20200808 WA0021
Mansyur, Dosen PSP Sejarah FKIP ULM Banjarmasin.

Tim Ahli Cagar Budaya Banjarmasin ini menduga wilayah Saranjana sudah ada sebelum tahun 1660 Masehi dan Saranjana sendiri pada era itu adalah suatu ethnic state atau negara/kerajaan suku dengan wilayah meliputi Pulau Halimun (Pulau Laut) bagian selatan.

“Pemimpinnya adalah Sambu Ranjana, dengan pusat kekuasaan di Saranjana. Awalnya menganut kepercayaan animisme. Tetapi seiring perkembangannya, mulai mendapat pengaruh Hindu lama. Sesuai pendapat Faisal Batennie, agama yang pertama kali berkembang di Pulau Laut adalah Hindu. Nama “Sambu” (Shambu) tidak terlepas dari kepercayaan Hindu. Misalnya dalam Kitab Reg Veda (Reg Weda). Nama Sambu adalah bagian dari 11 rudra atau rudra prana. Sambu memiliki makna bertemu atau bergabung. Versi lain Sambu berarti artinya kuat, berani, dan bijaksana. Sementara arti kata “Ranjana” dalam Bahasa Kawi adalah bergembira,” tulisnya.

IMG 20200808 WA0020

Menurut tulisan Schwaber tahun 1851, terdapat kisah-kisah tertua Suku Dayak menjadi kaya dan kuat, serta hidup di kampung-kampung dikelilingi kebun yang luas dan indah, di bawah raja-raja mereka dan keturunannya.

“Sayang setelah beberapa waktu, mengalami kehancuran ketika orang asing yang datang dengan perahu menyerang penduduk dan menghancurkan wilayah, sehingga mereka meninggalkan wilayah Saranjana. Jadi urutannya sedikit berubah, Saranjana diduga muncul di masa kepercayaan Hindu lama di Pulau Laut, sempat eksis kemudian pindah karena agresi asing. Lokasi pusat pemerintahan yang ada, tetap dikenal dengan nama yang sama yaitu Saranjana, walaupun penghuninya sudah pindah. Karena itu sampai tahun 1850-an dan 1900-an masih ada di peta. Dalam perkembangannya nama Saranjana pun dianggap mistis seiring hilangnya dari peta,” beber Mansyur.

Beberadaan Saranjana yang didirikan Suku Dayak sendiri lanjut Ketua LKS2B Kalimantan dan Tim Riset LAKPL Kalsel ini lebih tua dibandingkan munculnya Suku Bajau/Bajo/Sama Bajau yang menghuni Pulau Laut sekarang.

“Berdasarkan sumber dari ceritera rakyat Putri Pa’pu, Suku Bajau mulai menetap di Pantai Pagatan sekitar tahun 1700-1701 atau sekitar awal abad ke-18. Dalam perkembangannya, karena ada perselisihan kemudian diambil kebijaksanaan oleh Raja Pagatan agar Suku Bajau sebaiknya berpindah tempat agak jauh dari Pagatan sehingga mereka berlayar menuju ke daerah Pantai Seblimbingan, Pulau Laut. Dalam perkembangannya, terjadi wabah muntaber di Pantai Seblimbingan, Pulau Laut sehingga banyak pemukim Suku Bajau meninggal dunia dan dikuburkan di Seblimbingan. Suku Bajau kemudian berlayar kembali dan berpindah ke daerah Pantai Kotabaru dan menetap sampai sekarang,” jelas Mansyur.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Print
What do you think?
Love5
Cry1
Sad2
Happy1
Angry5
Surprise3

Populer Bulan Ini

download 5
Tak Patuhi Ketentuan, Sejumlah Warung Kopi di Kertak Hanyar dan Mali-Mali Diberi SP1
4 Agustus 2026, 09.15
IMG 20260806 191642
Supian HK Pastikan DPRD Cari Solusi Atasi Gejolak Perunggasan di Banua
6 Agustus 2026, 19.19
DJI 20260806093249 0177 Dbjbtv
Bye-Bye Macet! Wali Kota Lisa Percepat Pembangunan Jalan Lingkar Selatan Banjarbaru
7 Agustus 2026, 22.15
IMG 20260808 120458
Rumah Janda Dua Anak di Banjarbaru Ini Terancam Digusur, Baskoro Kawal Penyelesaian Sengketa
8 Agustus 2026, 18.17
Compress 20260806 201843 3882 1024x683 1
Kalsel Punya Aset di Jakarta, DPRD Dorong Optimalisasi Guna Dongkrak PAD
7 Agustus 2026, 18.43

You Might Also Like

HubFest 2026 Tandai Dimulainya Operasional Trans Saijaan di Kotabaru

GOW Kotabaru dan Persit Kodim 1004 Bahas Pentingnya Kesehatan Mental Perempuan

Legislator Kotabaru Doakan Jamaah Haji Diberi Kelancaran dan Jadi Mabrur

159 Peserta Lolos Administrasi, Seleksi Paskibraka Kotabaru 2026 Resmi Dimulai

Magnet Riset Dunia, ULM Bangun Laboratorium Mangrove 600 Hektare di Kotabaru

Teras7.comTeras7.com
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
Selamat Datang!

Masuk ke akun

Register Lost your password?