TERAS7.COM – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menargetkan jembatan darurat di ruas Sicincin–Simpang Balingka, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dapat kembali difungsikan pada awal Januari 2026.
Jembatan tersebut dibangun untuk memulihkan konektivitas yang terputus akibat banjir bandang dan longsor di kawasan tersebut.
Sebagai tindak lanjut kunjungan kerja Menteri PU Dody Hanggodo ke Sumatera Barat, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar bergerak cepat melakukan penanganan darurat di titik Jembatan Malalak KM 74+800 yang putus akibat terjangan banjir bandang Sungai Batang Aia Malalak.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa pemulihan akses jalan dan jembatan pascabencana menjadi prioritas utama pemerintah, mengingat peran strategis infrastruktur tersebut bagi mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
“Kementerian PU terus berusaha agar akses ini kembali fungsional secepat mungkin. Jalan dan jembatan merupakan urat nadi pergerakan masyarakat dan distribusi logistik,” ujar Dody.
Untuk mempercepat proses penanganan, Kementerian PU bekerja sama dengan Hutama Karya Infrastruktur (HKI) dan Pemerintah Daerah setempat.
Saat ini, sebanyak delapan unit excavator, satu unit loader, dan 12 unit dump truck telah dimobilisasi ke lokasi terdampak. Selain itu, tujuh unit alat berat tambahan juga tengah dalam perjalanan untuk memperkuat penanganan darurat.
Jembatan Malalak akan ditangani menggunakan jembatan darurat tipe Armco (Bailey) yang saat ini sedang dalam proses pengiriman dari Palembang, Sumatera Selatan, dan dijadwalkan tiba di lokasi pada Senin (22/12/2025).
Proses pemasangan jembatan darurat diperkirakan memakan waktu maksimal dua minggu, sehingga ditargetkan dapat dilalui kendaraan pada awal Januari 2026.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 BPJN Sumbar, Rio Andika, mengatakan bahwa fokus penanganan saat ini berada pada titik jembatan putus dan longsoran di sekitarnya.
“Saat ini sedang dilakukan penanganan pascalongsor di KM 74+800 ruas Sicincin–Malalak. Lokasi ini merupakan jembatan yang terputus akibat banjir bandang dan ditargetkan kembali fungsional dalam waktu sekitar dua minggu dengan pembangunan jembatan darurat Armco,” jelas Rio.
Selain jembatan putus, ruas Sicincin–Malalak juga terdampak longsor di sedikitnya delapan titik, dengan material longsoran menutup badan jalan sepanjang kurang lebih empat kilometer pada segmen KM 78 hingga KM 82. Akses dari arah Bukittinggi saat ini terputus hingga KM 85, sementara dari arah Malalak hanya dapat dilalui sampai KM 78.
Ruas Sicincin–Bukittinggi melalui Kecamatan Malalak memiliki peran vital sebagai jalur alternatif penghubung Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, dan Kota Padang, selain jalur nasional Padang–Bukittinggi via Lembah Anai. Jalan ini juga menjadi akses penting bagi aktivitas ekonomi, distribusi hasil pertanian, serta mobilitas harian masyarakat.
Warga setempat pun berharap penanganan jembatan darurat dapat segera rampung. Salah satu warga Nagari Malalak Selatan, Zulfikar (45), mengaku aktivitas masyarakat sangat terganggu sejak jalan dan jembatan terputus.
“Sejak jalan dan jembatan putus, aktivitas kami sangat terganggu. Sekarang alat berat sudah masuk dan jembatan darurat mulai dipersiapkan. Kami berharap akses ini bisa segera dibuka kembali,” ujarnya.
Dengan target fungsional awal Januari 2026, jembatan darurat Malalak diharapkan mampu memulihkan konektivitas dasar masyarakat sembari menunggu pembangunan infrastruktur permanen pascabencana.