TERAS7.COM – Kebakaran hutan dan lahan berdampak pada rusaknya ekosistem dan menyebabkan musnahnya flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di hutan.
Dampak lainnya dari asap yang ditimbulkan dapat menyebabkan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik, Penyakit Jantung serta iritasi pada mata, tenggorokan dan hidung.
Kabut asap dari kebakaran hutan juga dapat mengganggu bidang transportasi, khususnya transportasi penerbangan.
Menanggapi hal ini, Kepala Desa Langkang Baru Karji, mengimbau kepada seluruh masyarakat di desanya terkait dengan kewaspadaan terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Bukan tanpa alasan, ia menyampaikan hal tersebut mengingat saat ini sudah memasuki musim kemarau, sehingga Karhutla sangat rentan terjadi di mana-mana. Namun, kata dia, wilayah Desa Langkang Baru saat ini masih dalam kondisi aman.
Ia berujar, belajar dari pengalaman, sekitar tahun 2019 lalu, ketika wilayah Desa Langkang Baru mengalami Karhutla sekitar 5 hektar pada lahan gambut di areal persawahan milik warga (petani).
“Karena ini kita masih berada pada cuaca yang masih musim transisi ini, kita harapkan masyarakat tetap waspada terhadap kebakaran hutan lahan,” ungkap dia di kantor Desa Langkang Baru, Kamis (10/08/23).
Untuk itu, deteksi dini perlu dilakukan, agar Karhutla tidak terjadi. Selain kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga, mencegah sebelum terjadi. Keterlibatan seluruh elemen sangat dibutuhkan, warga, perangkat desa, aparatur negara Polri-TNI serta perusahaan sama-sama bersinergi dalam upaya mencegah terjadinya Karhutla.
Ditambah, ujar Karji, bila musim panas seperti ini banyak warga memancing, terlebih mereka bukan saja berasal dari warga sekitar sini. Mereka juga datang dari desa lain, hingga luar Kotabaru.
“Jadi berhati-hati, jangan sembarangan membuang puntung rokok atau membakar lahan dengan tanpa alasan, apalagi di daerah-daerah yang kering yang sangat mudah, serta rawan kebakaran itu. Ini kita ingatkan,” imbau Karji.
Ia berharap, dari sekian hektar luas lahan, baik yang ditanami maupun kosong, Karhutla ini tidak terjadi di wilayah Pulau Laut Timur, khususnya Desa Langkang Baru, wilayah Kabupaten Kotabaru pada umumnya, walaupun beberapa waktu lalu (2019) kebakaran terjadi pada sebagian wilayah Desa Langkang Baru, Karang Sari Indah, Betung, Bekambit, Sejakah dan Desa Batu Tunau.
Hal senada sebelumnya, dikatakan Camat Pulau Laut Timur Drs Tri Basuki Rachmad, telah memberikan imbauan serta sosialisasi kepada warga, Kades, sampai ke tingkat RT.
Di mana sosialisasi melalui imbauan-imbauan oleh Muspika pun melalui spanduk, atau disela-sela pertemuan dengan masyarakat dan juga pada saat patroli Karhutla, bisa juga melalui medsos, agar masyarakat luas lebih mengetahuinya.
“Untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, salah satu kunci keberhasilan pencegahan Karhutla di wilayah kecamatan Pulau Laut Timur adalah, adanya kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan dan hutan,” tegasnya.
“Alhamdulillah sampai hari ini Karhutla di Pulau Laut Timur masih terkendali dan aman,” ucap Camat bersyukur.