TERAS7.COM – Madihin merupakan tradisi lisan atau seni bertutur suku Banjar, Kalimantan Selatan.
Kesenian Madihin dikenal di Kalimantan Selatan sekitar abad ke-18 M, dan kesenian ini pada awalnya diperkirakan berkembang di sekitar daerah Kampung Tawia, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Salah satu pamadihinan (Bahasa Indonesia: pemain madihin) yang terkenal dari Tawia bernama Dulah Nyangnyang.
Madihin berasal dari kata madah, sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia, karena ia menyanyikan syair-syair yang berasal dari kalimat akhir yang bersamaan bunyi. Madah bisa juga diartikan sebagai kata-kata pujian (Bahasa Arab), hal ini bisa dilihat dari kalimat-kalimat dalam bait-bait Madihin yang kadang kala berupa pujian-pujian.
Dalam madihin terdapat unsur musikal yaitu instrumentasi dan vokal, instrumentasi yaitu berupa alat musik pengiring kesenian madihin ini yaitu sebuah alat musik yang disebut dengan tarbang dalam bahasa banjar (sejenis rebana besar), di mana fungsi dari tarbang ini adalah sebagai pembawa jalan atau ritmis bagi perjalanan penyajian musik ini, dalam pembukaan madihin tarbanglah yang pertama kali dimainkan sebagai tanda awal pertunjukan madihin.
Selain instrumentasi, dalam madihin juga terdapat unsur vokal yaitu terdiri dari syair dan lagu yang dibawakan dalam madihin, notasi lagu madihin bersifat resetatif, dan kebermaknaan syair atau lirik madihin ini yang membuat keunikan tersendiri terhadap kesenian yang satu ini, dalam syair madihin syarat akan makna dan nilai di dalamnya.
Di era sekarang, yang menjadi salah satu tantangan yang dihadapi adalah memperkenalkan atau mempromosikan Madihin, khususnya di kalangan generasi milenial.
Nah, Berangkat dari semangat melestarikan dan memperkenalkan kesenian tradisional tersebut, khususnya kepada kawula muda, Gazali Rahman atau biasa disapa Panjul Rumi, salah seorang pamadihinan muda kebanggan Kalimantan Selatan memiliki ‘Resep’ yang diolahnya sendiri.
Kepada Teras7.com ia menyampaikan, untuk memperkenalkannya, madihin perlu dikemas secara kekinian, dengan mengangkat topik-topik yang lagi viral atau pelbagai peristiwa yang sedang hangat di tengah masyarakat. Panjul mencontohkan seperti peristiwa seorang Politikus, Setya Novanto yang menabrak tiang listrik untuk menghindari kasus tuntutan korupsi. Selain dari peristiwa nasional, kejadian lokal juga tidak luput dari jangkauan ide kreatif Panjul untuk mengangkatnya menjadi Madihin, seperti peristiwa Kuyang yang sempat menghebohkan warga banua.
Kemudian, setelah melalui berbagai tahapan, madihin tersebut direkam dalam sebuah video, kemudian diolah dengan konsep yang tidak monoton dan memperhatikan nilai-nilai etika dan estetika.
“Pada intinya, peristiwa yang viral-viral coba kami angkat, kemudian kami tuangkan atau share ke media sosial. Jadi isi kontennya itu kekinian, selain menyelipkan nasehat, kami juga mengemasnya dengan komedi, sehingga masyarakat tertarik untuk mendengarkan madihin, terlebih kaum milenial,” terang Panjul Rumi.
Sumber referensi: Penelitian Nilai Pendidikan Karakter dalam Pertunjukkan Kesenian Madihin Kalimantan Selatan karya M. Budi Zakia Sani.