TERAS7.COM – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Promosi dan Kebudayaan menggelar Temu Narasi Syekh Yusuf Al-Makassari di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (05/11/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari yang mendapat pengakuan UNESCO atas ketokohan dan perjuangannya.
Penelaah Teknis Kebijakan Direktorat Promosi Kementerian Kebudayaan RI, Ishak Octovianus, mengatakan kegiatan ini bertujuan mengangkat kembali perjalanan hidup, pemikiran, serta nilai-nilai perjuangan Syekh Yusuf agar semakin dikenal masyarakat.
“Intinya, kami dari Direktorat Promosi Kementerian Kebudayaan melaksanakan kegiatan Temu Narasi Syekh Yusuf Al-Makassari ini dalam rangka perayaan 400 tahun Syekh Yusuf yang telah ditetapkan oleh UNESCO,” ujar Ishak.
Menurutnya, Syekh Yusuf merupakan ulama sekaligus pejuang yang memiliki pengaruh luas. Ketokohannya tidak hanya dikenal dalam sejarah Indonesia, tetapi juga memberikan pengaruh hingga kawasan Afrika.
Ishak menjelaskan, pemilihan Banjarbaru sebagai lokasi kegiatan juga berkaitan dengan jejak penyebaran ajaran dan pengaruh pemikiran Syekh Yusuf di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Selatan.
Perjalanan sejarah perkembangan Islam di daerah tersebut juga melahirkan sejumlah ulama besar, salah satunya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Ishak menambahkan, sepanjang 2026, Temu Narasi Syekh Yusuf Al-Makassari baru dilaksanakan di dua kota. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di Jawa Timur pada September lalu, kemudian dilanjutkan di Banjarbaru pada November ini.

Sementara itu, Ketua PWI Kalimantan Selatan, Zainal Helmie, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai Temu Narasi menjadi ruang untuk memperkenalkan tokoh-tokoh ulama dan sejarah Islam kepada masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Zainal juga menyoroti kontribusi Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari melalui karya-karya tulis yang dikenal hingga luar negeri dan masih digunakan sebagai rujukan di sejumlah pondok pesantren.
“Kami ada ulama yang luar biasa, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Beliau banyak sekali juga menulis buku dan bukunya sangat terkenal dan digunakan oleh pondok-pondok pesantren luar negeri, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia,” ujarnya.
Atas kontribusi tersebut, Zainal berharap pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap pengusulan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai Pahlawan Nasional.
“Jadi saya mohon untuk titip Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai Pahlawan Nasional, mungkin itu harapan dari kami warga Kalimantan Selatan,” tambahnya.
Ia juga berharap kegiatan seperti Temu Narasi dapat menjadi momentum bagi wartawan untuk mengangkat sejarah dan kearifan lokal agar semakin dikenal masyarakat luas.