TERAS7.COM – Pemerintah mulai menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di sejumlah sekolah di Kota Banjarbaru.
Launching perdana program ini dilaksanakan di tiga satuan pendidikan di wilayah Kecamatan Landasan Ulin, yaitu SDN Landasan Ulin Timur 3, SMPN 4 Banjarbaru, dan SMPN 14 Banjarbaru.
Dalam kegiatan ini, Anggota Komisi II DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari, turut hadir melakukan pemantauan langsung ke SDN Landasan Ulin Timur 3.
Ia menilai implementasi MBG di tingkat sekolah dasar memerlukan perhatian dan persiapan lebih, terutama karena menyasar peserta didik usia dini.
“Saya memilih meninjau yang di SD karena program MBG di jenjang ini harus lebih prepare, mengingat usia anak-anak yang masih sangat muda,” ujarnya, baru-baru tadi.
Menurut Emi, pada hari pertama pelaksanaan MBG, sebanyak 477 siswa dari kelas 1 sampai 6 menerima paket makanan. Bahkan, dua guru hamil di sekolah juga turut mendapatkan distribusi.
Ia memuji isi menu yang cukup baik dari sisi gizi dan variasi, terdiri dari ikan, sayur, lauk, dan buah. Namun, ia juga menyampaikan sejumlah catatan teknis, salah satunya adalah tidak tersedianya sendok dalam paket makanan dari dapur MBG.
“Banyak siswa tidak membawa sendok, dan dari dapur MBG ternyata tidak menyertakan sendok juga. Akhirnya anak-anak harus makan pakai tangan setelah cuci tangan serempak, dan ini menyita waktu istirahat,” ungkapnya.
Ia menyarankan perlunya koordinasi lebih jelas antara pihak sekolah, dapur MBG, dan wali murid agar distribusi berjalan lancar dan tidak mengganggu aktivitas belajar-mengajar.
Kendala lain yang ditemukan di hari pertama adalah fase transisi siswa kelas 1 yang baru masuk SD. Emi mencatat ada siswa yang menangis karena tidak membawa peralatan makan pribadi, dan ada pula yang belum bisa makan sendiri.
“Beberapa anak belum terbiasa makan sendiri, jadi ada wali murid yang terpaksa menyuapi. Ini tantangan pembiasaan yang harus ditangani sekolah dengan sabar dan bertahap,” katanya.
Untuk mengakomodasi kebutuhan dan usia siswa, pihak sekolah membagi waktu makan dalam dua sesi: kelas 1-3 makan pukul 09.00 WITA, sedangkan kelas 4-6 pada pukul 10.00 WITA.
Emi mengingatkan bahwa pembagian waktu ini harus disesuaikan dengan jadwal pelajaran agar tidak mengganggu proses belajar siswa.
“Distribusi makanan harus disinkronkan dengan jadwal sekolah agar tidak menghambat pelajaran. Ini yang perlu dimonitor secara berkala,” tegasnya.
Program MBG merupakan program pemerintah pusat yang dananya bersumber dari APBN. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas gizi siswa dan menekan angka stunting sejak usia sekolah.
Tak heran, jika Emi menyatakan bahwa program ini sangat membantu dari dua sisi, yakni asupan gizi anak dan pengurangan beban ekonomi keluarga.
“Anak-anak dan orang tua senang sekali. Setidaknya satu kali makan anak-anak di sekolah sudah terjamin. Ini tentu mengurangi beban pengeluaran rumah tangga,” ujarnya.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya evaluasi dan monitoring rutin agar pelaksanaan program berjalan optimal ke depan.
“Perjalanan program ini sangat tergantung pada efektivitas pelaksanaan di lapangan dan juga pada ketersediaan anggaran. Jadi monitoring harus terus dilakukan untuk pembenahan,” tutupnya.