Dengan berselancar di website kami, Anda setuju dengan Kebijakan Privasi kami.
Accept
Teras7.comTeras7.com
  • INDEKS BERITA
  • NEWS
    • Nasional
    • Berita Umum
    • Ekonomi
    • Layanan Publik
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Banjir KalSel
  • LIFE
    • Education
    • Lifestyle
    • Teknologi
    • Kilas Balik
  • HEALTH
  • TRAVEL
  • FOOD
Search
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Reading: Bayani di Era Digital: Antara Kesetiaan pada Teks dan Keterbukaan pada Akal
Share
Sign In
Notification Show More
Aa
Teras7.comTeras7.com
Aa
Search
  • Indeks Berita
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Budaya
  • Opini
  • Education
  • Ekonomi
  • Video
  • Berita Umum
  • Environment
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Kilas Balik
  • Kuliner
  • Layanan Publik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Religi
  • Sosial
  • Teknologi
  • Travel
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Bayani di Era Digital: Antara Kesetiaan pada Teks dan Keterbukaan pada Akal

Ahmad Fauzi
Ahmad Fauzi 3 November 2025, 11.36
Share
afauzi 1
Ahmad Fauzi
SHARE

Oleh: Ahmad Fauzi

TERAS7.COM – Dalam tiga tulisan sebelumnya, kita menelusuri bagaimana empirisme, rasionalisme, dan kritisisme membentuk wajah pengetahuan modern. Kini, kita beralih pada tradisi epistemologi Islam yang tak kalah kaya: Bayani, Burhani, dan Irfani, tiga istilah ini pertama kali diperinci secara sistematis oleh pemikir kontemporer Maroko, M. Abed al-Jabiri, dalam karya monumentalnya Bunyat al-‘Aql al-‘Arabi (Struktur Nalar Arab).

Menurut Jabiri, ketiganya tidak sekadar klasifikasi epistemologis, melainkan cara kerja akal dalam memahami dunia. Bayani mewakili penalaran berbasis teks; burhani mewakili penalaran rasional-demonstratif; dan irfani mewakili dimensi intuitif-spiritual.

Dalam sejarah panjang Islam, bayani menempati posisi dominan. Ia menjadi nalar utama dalam fikih, tafsir, dan kalam—bidang-bidang yang berakar pada teks wahyu dan otoritas ulama. Namun dominasi ini, menurut Jabiri, membawa konsekuensi epistemologis: nalar Islam menjadi tekstual, hierarkis, dan sering kali menolak dialog dengan realitas sosial yang berubah.

Bayani dan Tradisi Otoritas

Baca juga :

Dr. Iwan Aflanie Terpilih sebagai Rektor ULM Periode 2026-2030

Perluas Akses Pendidikan, MUI Barito Kuala Gandeng ULM Jalankan Program Satu Desa Satu Sarjana

WOW! Lewati Target, ULM Kini Peringkat 76 di Indonesia pada UI GreenMetric 2026

Nalar bayani bekerja dengan asumsi dasar bahwa teks—al-Qur’an dan hadis—adalah sumber makna final. Kebenaran terletak pada kemampuan mengaitkan ayat dan hadis secara sistematis. Karena itu, otoritas keagamaan terbangun di atas kredibilitas dalam memahami teks, bukan pada kekuatan rasionalitas atau empirisme.

Dalam konteks sejarah, cara kerja ini sangat berperan. Ia menjaga otentisitas ajaran dan memberi stabilitas sosial pada masyarakat Muslim klasik. Tetapi di era modern, ketika realitas berubah cepat dan ilmu pengetahuan berkembang pesat, metode bayani sering kali dianggap kaku.

Abed al-Jabiri menyebut fenomena ini sebagai bentuk taqlid epistemologis—ketika umat tidak lagi menjadikan teks sebagai inspirasi berpikir, melainkan sebagai batas berpikir. Nalar berhenti pada reproduksi pendapat masa lalu, bukan pada penemuan makna baru.

Kritik Jabiri: Nalar yang Membeku

Dalam analisisnya tentang nalar Arab klasik, M. Abed al-Jabiri menilai bahwa epistemologi bayani—yang menekankan otoritas teks dan tradisi ulama—memiliki kekuatan besar dalam menjaga kesinambungan norma dan moral Islam, tetapi juga menyimpan keterbatasan. Dalam banyak kasus, cara berpikir bayani cenderung mencari legitimasi hukum atas realitas sosial, bukan sebaliknya menafsirkan teks untuk menjawab tantangan zaman.

Jabiri mencontohkan, dalam sejarah Islam klasik, sejumlah penafsiran terhadap ayat atau hadis sering kali diarahkan untuk meneguhkan stabilitas politik dan ketaatan sosial. Pola ini, menurutnya, membuat teks suci diperlakukan seperti sumber legitimasi kekuasaan, bukan ruang dialog etis antara wahyu dan akal. Ia menyebut kecenderungan ini sebagai “dominasi nalar bayani atas burhani,” yaitu ketika dimensi rasional dan empiris kehidupan umat menjadi subordinat dari tafsir literal yang telah mapan.

Kritik Jabiri tidak bermaksud merendahkan tradisi bayani, tetapi mengingatkan bahwa Islam memiliki warisan epistemologis yang lebih luas—yakni burhani (rasional-demonstratif) dan irfani (intuisi-spiritual).

Interkoneksi Epistemologi

Pandangan Jabiri ini sejalan dengan pemikiran Prof. Amin Abdullah, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, yang memperkenalkan konsep integrasi-interkoneksi keilmuan. Ia berpendapat bahwa nalar Islam modern tidak boleh hanya berpijak pada teks, melainkan juga harus berdialog dengan sains dan pengalaman manusia.

Menurut Amin Abdullah, bayani, burhani, dan irfani perlu dikaitkan secara produktif. Teks memberi arah normatif; rasionalitas memberi daya analisis; dan pengalaman spiritual menjaga kedalaman moral. Dari sinilah muncul gagasan bahwa ilmu Islam seharusnya tumbuh di persimpangan antara teks, akal, dan pengalaman—tidak berhenti pada salah satunya.

Dalam bahasa lain, jika Jabiri mengajukan proyek “dekonstruksi nalar Arab”, maka Amin Abdullah menawarkan proyek “rekonstruksi nalar Islam Indonesia”.

Bayani di Era Digital

Di era digital, bayani menemukan bentuk baru. Media sosial, kanal dakwah daring, dan forum keagamaan online menjadi arena baru bagi otoritas teks. Namun, logika algoritma sering kali mendorong bayani ke bentuk paling dangkal: potongan ayat dan hadis yang beredar tanpa konteks, dipakai untuk membenarkan posisi politik, atau menyerang pandangan berbeda.

Bayani yang seharusnya membuka ruang penafsiran malah berubah menjadi senjata retoris untuk menutup perbedaan. Di titik inilah, kritik Jabiri kembali relevan. Kita perlu menata ulang cara berpikir keagamaan agar tetap setia pada teks, tetapi tidak kehilangan daya reflektif dan empatik. Sebab, teks yang dibaca tanpa akal hanya menghasilkan dogma; dan akal yang berjalan tanpa teks kehilangan arah etis.

Sebagaimana ditegaskan Jabiri, Islam tidak pernah anti-rasionalitas. Justru sejak awal, tradisi Islam memadukan wahyu dan akal dalam satu horizon pencarian kebenaran. Yang perlu kita lakukan hari ini adalah menghidupkan kembali semangat itu: berpikir dengan teks, tetapi juga melampauinya—menuju nalar Islam yang kritis, terbuka, dan berkeadaban.

Di sinilah kita mulai menapak ke arah Burhani dan Irfani — dua bentuk epistemologi ilmu-ilmu keislaman yang akan menjadi bahasan selanjutnya dalam seri refleksi filsafat pengetahuan ini.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Print
What do you think?
Love3
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Surprise0
Leave a review Leave a review

Leave a review Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Populer Bulan Ini

IMG 20260926 WA0032 scaled e1790408898730
Pererat Kemitraan Antar Vendor, Aston Tanjung City Hotel Kumpulkan 55 Event dan Wedding Organizer
26 September 2026, 15.48
89a452ae c910 4565 ae93 a74121580007 1
Dr. Iwan Aflanie Terpilih sebagai Rektor ULM Periode 2026-2030
2 Oktober 2026, 14.34
66593275 5a57 44a2 a0fc a71c2d8589d7
KAKI Kalsel Soroti Dugaan Mafia Tanah HSS di Kejati
21 September 2026, 16.25
IMG 20260924 WA0041 scaled e1790248419389
Pencarian Hari ke-12 KM Virgo Transport 8: Tim Penyelam Kembali Temukan 14 Korban, Total 150 Orang Ditemukan
24 September 2026, 19.15
Screenshot 2026 09 23 092554
Tingkatkan Nilai Tambah Produk Perikanan, Tiga Dosen ULM Turun ke Angsana
24 September 2026, 16.19

You Might Also Like

Dr. Iwan Aflanie Terpilih sebagai Rektor ULM Periode 2026-2030

Perluas Akses Pendidikan, MUI Barito Kuala Gandeng ULM Jalankan Program Satu Desa Satu Sarjana

WOW! Lewati Target, ULM Kini Peringkat 76 di Indonesia pada UI GreenMetric 2026

Tingkatkan Nilai Tambah Produk Perikanan, Tiga Dosen ULM Turun ke Angsana

Teratas di Kalsel, ULM Posisi 38 Nasional RIS 2026

Teras7.comTeras7.com
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
Selamat Datang!

Masuk ke akun

Register Lost your password?