Oleh: Muhammad Halim Ihsan
Editor: Ahmad Fauzi
TERAS7.COM Siang itu, matahari menembus awan tebal di langit Juai, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Di halaman SDN Juai Desa Sumber Rejeki, anak-anak duduk berbaris rapi. Pandangan mereka tertuju pada bungkusan putih di meja depan—seragam sekolah baru yang selama ini hanya mereka bayangkan.
Perwakilan siswa maju dengan langkah kecil tapi penuh semangat. Ia mengenakan topi sekolah berputar kecil di depan teman-temanya, seolah ingin memastikan dunia melihatnya. Di depannya, para guru tersenyum lega. Bagi mereka, seragam bukan sekadar kain, melainkan simbol martabat.
“Seragam adalah identitas. Saat mengenakannya, anak-anak merasa sejajar dengan teman-teman mereka. Yang membedakan hanyalah usaha dan prestasi,” ujar Priyadi, Presiden Direktur PT Adaro Indonesia, yang hari itu menyerahkan langsung bantuan seragam.
Dari Seragam ke Harapan
Sebelum program “Satu Seragam Sejuta Harapan” hadir, banyak siswa di pedalaman Kalimantan Selatan terpaksa absen dari sekolah karena alasan sepele tapi menyakitkan, tidak memiliki seragam. Ada yang datang dengan pakaian seadanya, bahkan ada yang akhirnya berhenti bersekolah karena merasa malu.
Secara nasional, tren angka putus sekolah di jenjang dasar memang terus menurun. Namun, di banyak daerah terpencil, tantangan ekonomi masih menjadi penghalang utama anak-anak untuk terus belajar. Laporan-laporan lokal menunjukkan bahwa sebagian keluarga masih kesulitan memenuhi kebutuhan sederhana—termasuk seragam dan perlengkapan sekolah—yang justru menjadi simbol penting kehadiran anak di ruang kelas.
Kini, ribuan paket seragam baru telah disalurkan ke sekolah-sekolah dasar di Balangan, Tabalong, dan Barito Timur. Tahun ini saja, 2.504 paket seragam diserahkan untuk 46 sekolah dasar negeri di Kabupaten Balangan.
Di setiap helai kain itu tersimpan pesan: bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena persoalan kecil di rumah tangga. Bahwa harapan bisa dijahit dari benang solidaritas dan kepedulian.
Energi yang Menyalakan Nurani
Selama ini, energi kerap dimaknai dalam bentuk listrik, bahan bakar, atau industri. Namun di tangan Adaro, energi menjelma menjadi sesuatu yang lebih halus energi—kemanusiaan.
Lewat beragam program tanggung jawab sosial, Adaro menyalurkan daya yang tak diukur dengan kilowatt: daya untuk memperbaiki hidup. Program Satu Seragam Sejuta Harapan hanyalah satu di antara sekian bentuk energi sosial yang terus mengalir.
Menerangi rumah dengan listrik mungkin hal biasa. Tapi menerangi keberanian anak-anak untuk bermimpi—itulah cahaya yang tak mudah padam. Dari langkah kecil datang ke kelas dengan seragam baru, tumbuh keberanian untuk melangkah lebih jauh. Di titik inilah, beasiswa menjadi obor yang meneruskan cahaya.
Menyalakan Jalan ke Pendidikan Tinggi
Dari ruang kelas dasar hingga bangku kuliah, api semangat yang sama terus menyala. Menurut data BPS 2024, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia tercatat sekitar 32%. Di Kalimantan Selatan, angka yang tersedia menunjukkan sekitar 26% untuk jenjang perguruan tinggi. Artinya, hanya kurang dari satu dari empat lulusan SMA melanjutkan ke perguruan tinggi.
Dalam konteks inilah, beasiswa Adaro hadir sebagai jembatan nyata antara kampung dan dunia akademik. Tahun 2025, Adaro kembali menyalakan obor pengetahuan melalui program beasiswa pendidikan tinggi bagi pelajar Kalimantan Selatan yang menempuh studi di IPB University dan UPN Veteran Yogyakarta. Program ini tak hanya menanggung biaya kuliah, tetapi juga biaya hidup, asrama, layanan kesehatan, bantuan skripsi, hingga biaya co-ass bagi mahasiswa kedokteran hewan.
“Anak-anak di sini bukan penonton masa depan, tapi pelaku. Mereka akan menjadi emas yang menyinari negeri,” ujar Zuraida Murdia Hamdie, Ketua Yayasan Amanah Bangun Negeri, mitra pelaksana program pendidikan Adaro.
Cahaya yang Mengembalikan Penglihatan
Gelombang kepedulian itu juga menjangkau mereka yang lama terhalang oleh kabut pandangan. Sejak 2003, Adaro menjalankan program “Satu Cahaya Bejuta Cerita”, operasi katarak gratis bagi masyarakat di sekitar wilayah tambang. Lebih dari 7.000 mata telah dioperasi, dan tahun ini 480 warga dari enam kabupaten di Kalimantan Selatan kembali bisa melihat dunia dengan jelas.
Menurut Riskesdas 2018, prevalensi katarak nasional mencapai 1,8%, meningkat tajam pada kelompok usia di atas 50 tahun hingga 5%. Tanpa akses operasi, puluhan ribu warga berisiko kehilangan penglihatan.
Salah satunya, Supagi (58), warga Tanjung Selatan. Ia pernah kehilangan penglihatannya karena katarak. “Kalau malam silau, apalagi hujan, pandangan makin nggak jelas,” kenangnya. Kini, setelah operasi, ia bisa kembali bekerja. “Sekarang setelah operasi, saya bisa melihat jelas lagi. Happy karena ingin sehat” ujarnya tersenyum.
Program ini tidak hanya mengobati mata, tetapi mengembalikan kemampuan untuk membaca wajah orang yang dicintai—melihat masa depan dengan mata sendiri.
Dari Tambang ke Buku
Kalimantan Selatan sering disebut jantung energi nasional. Tapi di tengah wilayah penghasil batu bara, tumbuh pula tambang lain yaitu tambang ilmu.
Di Tabalong, PT Saptaindra Sejati (SIS) bersama Yayasan Amanah Bangun Negeri menggagas Festival Literasi 2025, melibatkan anak PAUD dan SD untuk bercerita, membaca, dan menulis pengalaman mereka. “Indonesia Emas itu tidak hanya tentang anak kota besar. Anak-anak di daerah ini juga akan menjadi emas yang memimpin dunia,” ujar Zuraida Murdia Hamdie.
Menurut PISA 2022, skor literasi membaca siswa Indonesia berada di 359 poin, turun dari 371 pada 2018 dan jauh di bawah rata-rata OECD (493). Berdasarkan Asesmen Nasional 2023, lebih dari 45% siswa SD di Kalimantan Selatan belum mencapai kompetensi minimum membaca. Karena itu, festival literasi menjadi gerakan kecil yang menyalakan kesadaran baca di daerah.
Literasi, dalam bentuk paling sederhana, telah menjadi nyala dari getar kemanusiaan.
Energi yang Tak Pernah Habis
Di tengah perdebatan tentang transisi energi dan keberlanjutan industri ekstraktif, Adaro menampilkan wajah lain dari energi: energi empati.
Daya ini tak bersumber dari tambang, melainkan dari hati manusia yang belajar memberi. Ia menyala setiap kali seorang anak bisa bersekolah, seorang mahasiswa bisa melanjutkan kuliah, seorang kakek bisa kembali melihat, dan seorang guru merasa tak sendiri.
“Kalau listrik bisa padam, batu bara bisa habis. Tapi semangat belajar dan rasa syukur itu tak akan pernah padam,” kata seorang guru di Juai, sambil menatap murid-muridnya.
Mengabadikan Energi Kebaikan
Kini, setiap kali Priyadi atau tim Adaro turun ke lapangan, mereka tak hanya melihat angka CSR atau laporan tahunan. Mereka melihat kehidupan yang berubah. Mereka melihat bagaimana denyut kepedulian bisa diabadikan dalam bentuk paling sederhana: senyum, cahaya mata, dan keberanian bermimpi.
Karena sejatinya, sebuah kemajuan bukanlah negeri yang kaya batu bara, melainkan negeri yang kaya kepedulian. Dan di tanah Kalimantan Selatan, di antara debu tambang dan sinar mentari, energi itu terus hidup mengabadikan kebaikan untuk negeri, dari generasi ke generasi. Suatu hari, anak-anak penerima manfaat ini akan tumbuh menjadi generasi yang memiliki mimpi besar, bukan dengan bara, tetapi dengan cahaya pengetahuan.
