TERAS7.COM – Anggota DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari, SE menilai optimalisasi tiang bersama telekomunikasi menjadi solusi yang lebih realistis untuk menata kabel semrawut di Kota Banjarbaru dibandingkan penerapan sistem kabel ducting secara menyeluruh.
Anggota DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari SE, mengatakan, keberadaan tiang bersama yang telah dibangun pemerintah daerah harus segera dimanfaatkan secara maksimal karena selain mendukung penataan kabel, juga berpotensi menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi penggunaan oleh provider.
“Kalau untuk Kota Banjarbaru, dengan sudah adanya pembangunan tiang bersama dan kemampuan daerah, sistem penataan dengan tiang bersama masih menjadi pilihan yang lebih tepat,” ujarnya.
Menurut politisi PAN tersebut, pembangunan ducting tetap memungkinkan dilakukan di masa mendatang, terutama di kawasan strategis atau protokol. Namun, saat ini biaya pembangunan ducting masih tergolong sangat tinggi sehingga perlu disesuaikan dengan kemampuan APBD.
“Kalau ducting memang bisa saja, tetapi pembiayaannya tinggi. Biaya hingga miliaran per kilometer. Jadi kita harus menghitung kemampuan APBD,” katanya.
Emi menyebut Banjarbaru telah memiliki sekitar 700 tiang bersama, dengan 500 tiang sudah terpasang dan sekitar 200 tiang lainnya belum dimanfaatkan.
“Tiang bersama sudah ada, sekitar 700. Ada 500 tiang sudah terpasang, masih ada 200 tiang yang belum terpasang. Jadi harusnya sesegera mungkin dimanfaatkan,” ucapnya.
Ia menjelaskan, pemanfaatan tiang bersama oleh sejumlah provider dapat mengurangi jumlah tiang dan kabel yang semrawut sekaligus menghasilkan retribusi bagi kas daerah.
“Misalnya ada lima lajur kabel optik, itu bisa dijadikan satu tiang. Penataannya lebih baik dan retribusinya juga bisa masuk ke kas daerah,” jelasnya.
Emi menambahkan, dasar pemungutan retribusi penggunaan tiang bersama telah dipersiapkan melalui perubahan Perda Pajak dan Retribusi Daerah.
Karena itu, ia meminta Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Banjarbaru segera mendata para provider dan pengguna jaringan kabel agar tiang bersama yang sudah dibangun menggunakan anggaran APBD tidak menjadi aset yang mubazir.
“Jangan sampai tiang yang sudah dibangun menggunakan anggaran APBD ini tidak dimanfaatkan dan jangan sampai jadi mubazir. Apalagi payung hukumnya untuk retribusi juga sudah dipersiapkan,” tegasnya.
Menurutnya, jika kemampuan keuangan daerah meningkat pada masa mendatang, konsep ducting dapat diterapkan secara bertahap di kawasan-kawasan strategis.
Namun, untuk saat ini, optimalisasi tiang bersama menjadi langkah paling realistis untuk menata jaringan kabel sekaligus meningkatkan potensi pendapatan daerah.