Oleh Ahmad Fauzi
(Kolom ketiga dalam seri refleksi filsafat pengetahuan. Sebelumnya membahas Empirisme dan Rasionalisme.)
TERAS7.COM Kita hidup di zaman paling informatif dalam sejarah manusia, namun juga paling bising. Informasi mengalir deras tanpa jeda, menembus layar dan kesadaran kita tanpa filter. Semua orang bisa berbicara, berpendapat, bahkan menciptakan “medianya” sendiri. Tapi di tengah kebebasan ini, paradoks mencuat: masyarakat kian vokal, namun belum tentu makin rasional.
Di tengah arus ini, saya teringat pada satu warisan lama dari dunia filsafat: kritisisme.
Antara Rasionalisme dan Empirisme
Filsafat kritisisme lahir dari pergulatan pemikiran abad ke-18, ketika Immanuel Kant mencoba menengahi dua kubu besar yang berselisih: rasionalis dan empiris. Kaum rasionalis menegaskan bahwa akal adalah sumber utama pengetahuan; sementara kaum empiris berpegang bahwa pengetahuan datang dari pengalaman.
Kant tidak menolak keduanya. Ia menegaskan bahwa akal dan pengalaman harus bekerja bersama: “Tanpa pengalaman, akal kosong; tanpa akal, pengalaman buta,”
— Immanuel Kant, Critique of Pure Reason.
Kritisisme menempatkan manusia bukan sebagai penerima pasif realitas, melainkan sebagai subjek aktif yang menafsirkan dan menstrukturkan pengalaman melalui akal. Pengetahuan, bagi Kant, tidak pernah netral ia dibentuk oleh cara manusia memahami dunia.
Relevansi di Tengah Banjir Informasi
Pandangan ini terasa sangat relevan hari ini, di tengah dunia yang dikendalikan algoritma.
Setiap klik, like, dan share membentuk cara kita memandang kenyataan. Banyak orang percaya pada “fakta” yang selaras dengan keyakinannya, tanpa sempat menimbang kebenarannya.
Kritisisme, dalam konteks digital, mengajarkan skeptisisme rasional: tidak menolak begitu saja, tapi juga tidak menelan mentah-mentah. Ia mengajarkan keseimbangan antara percaya dan berpikir antara keterbukaan dan kehati-hatian.
Kita perlu bertanya: dari mana informasi datang, apa tujuannya, dan siapa yang diuntungkan oleh narasi itu? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tanda sinisme, melainkan bentuk tanggung jawab intelektual agar kita tidak tenggelam dalam arus disinformasi dan manipulasi digital.
Sayangnya, ruang publik kita sering diwarnai oleh emosi ketimbang refleksi. Di media sosial, perdebatan mudah berubah menjadi serangan pribadi; kritik menjadi ejekan; opini disamakan dengan kebenaran. Padahal, esensi berpikir kritis bukanlah menyerang, tetapi mencari pemahaman yang lebih dalam.
Kritik dalam Pendidikan dan Kebudayaan
Dalam dunia pendidikan, warisan kritisisme Kant seharusnya menjadi fondasi utama.
Sekolah dan universitas bukanlah tempat untuk sekadar menghafal teori, tetapi ruang untuk membiasakan diri bertanya dan menimbang. Namun, budaya bertanya sering kali dianggap membangkang. Akibatnya, siswa belajar untuk patuh, bukan untuk berpikir. Padahal, justru dari pertanyaan-pertanyaan itulah tumbuh daya analitis dan kreativitas.
Guru dan dosen perlu menciptakan iklim intelektual yang menghargai keraguan, argumentasi, dan dialog terbuka. Berpikir kritis bukan sekadar kemampuan akademik, tetapi keterampilan hidup dalam masyarakat demokratis.
Kritisisme juga penting di ruang sosial dan politik. Ia menuntut warga untuk tidak mudah percaya pada klaim moral atau jargon pembangunan yang belum diuji rasionalitasnya.
Dalam konteks Indonesia, semangat ini penting untuk meneguhkan etika berpikir di tengah budaya paternalistik dan politik simbolik yang sering menipu kesadaran publik.
Kant pernah menulis semboyan abadi: Sapere aude! — Beranilah menggunakan akalmu sendiri.
Berpikir kritis bukan berarti kehilangan iman, melainkan menegaskan tanggung jawab untuk mencari kebenaran dengan jujur. Ia menuntut kita untuk tenang di tengah hiruk-pikuk, hati-hati di tengah kecepatan, dan rasional di tengah bias algoritma.
Di zaman di mana suara begitu mudah viral namun makna sering hilang, menghidupkan kembali etos kritisisme berarti menyelamatkan rasionalitas manusia itu sendiri. Kritisisme bukan sekadar teori filsafat, tetapi sikap hidup: berani berpikir, berani bertanya, dan berani tidak percaya sebelum mengerti.