Dengan berselancar di website kami, Anda setuju dengan Kebijakan Privasi kami.
Accept
Teras7.comTeras7.com
  • INDEKS BERITA
  • NEWS
    • Nasional
    • Berita Umum
    • Ekonomi
    • Layanan Publik
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Banjir KalSel
  • LIFE
    • Education
    • Lifestyle
    • Teknologi
    • Kilas Balik
  • HEALTH
  • TRAVEL
  • FOOD
Search
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Reading: Di Tengah Bising Digital, Kant Mengingatkan: Gunakan Akalmu
Share
Sign In
Notification Show More
Aa
Teras7.comTeras7.com
Aa
Search
  • Indeks Berita
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Budaya
  • Opini
  • Education
  • Ekonomi
  • Video
  • Berita Umum
  • Environment
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Kilas Balik
  • Kuliner
  • Layanan Publik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Religi
  • Sosial
  • Teknologi
  • Travel
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Di Tengah Bising Digital, Kant Mengingatkan: Gunakan Akalmu

Ahmad Fauzi
Ahmad Fauzi 27 Oktober 2025, 09.44
Share
afauzi 1
Ahmad Fauzi
SHARE

Oleh Ahmad Fauzi

(Kolom ketiga dalam seri refleksi filsafat pengetahuan. Sebelumnya membahas Empirisme dan Rasionalisme.)

TERAS7.COM Kita hidup di zaman paling informatif dalam sejarah manusia, namun juga paling bising. Informasi mengalir deras tanpa jeda, menembus layar dan kesadaran kita tanpa filter. Semua orang bisa berbicara, berpendapat, bahkan menciptakan “medianya” sendiri. Tapi di tengah kebebasan ini, paradoks mencuat: masyarakat kian vokal, namun belum tentu makin rasional.

Di tengah arus ini, saya teringat pada satu warisan lama dari dunia filsafat: kritisisme.

Antara Rasionalisme dan Empirisme

Baca juga :

Wabup Juanda Buka Rakor BIAS 2026, Tekankan Pentingnya Perlindungan Kesehatan Anak Tapin

Semarak HUT ke-81 RI di Desa Lokpaikat Tapin: Dari Jalan Sehat hingga Panjat Pinang Pererat Kebersamaan Warga

Masjid Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Hadir sebagai Ikon Religi Baru Kalimantan Selatan

Filsafat kritisisme lahir dari pergulatan pemikiran abad ke-18, ketika Immanuel Kant mencoba menengahi dua kubu besar yang berselisih: rasionalis dan empiris. Kaum rasionalis menegaskan bahwa akal adalah sumber utama pengetahuan; sementara kaum empiris berpegang bahwa pengetahuan datang dari pengalaman.

Kant tidak menolak keduanya. Ia menegaskan bahwa akal dan pengalaman harus bekerja bersama: “Tanpa pengalaman, akal kosong; tanpa akal, pengalaman buta,”
— Immanuel Kant, Critique of Pure Reason.

Kritisisme menempatkan manusia bukan sebagai penerima pasif realitas, melainkan sebagai subjek aktif yang menafsirkan dan menstrukturkan pengalaman melalui akal. Pengetahuan, bagi Kant, tidak pernah netral ia dibentuk oleh cara manusia memahami dunia.

Relevansi di Tengah Banjir Informasi

Pandangan ini terasa sangat relevan hari ini, di tengah dunia yang dikendalikan algoritma.
Setiap klik, like, dan share membentuk cara kita memandang kenyataan. Banyak orang percaya pada “fakta” yang selaras dengan keyakinannya, tanpa sempat menimbang kebenarannya.

Kritisisme, dalam konteks digital, mengajarkan skeptisisme rasional: tidak menolak begitu saja, tapi juga tidak menelan mentah-mentah. Ia mengajarkan keseimbangan antara percaya dan berpikir antara keterbukaan dan kehati-hatian.

Kita perlu bertanya: dari mana informasi datang, apa tujuannya, dan siapa yang diuntungkan oleh narasi itu? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tanda sinisme, melainkan bentuk tanggung jawab intelektual agar kita tidak tenggelam dalam arus disinformasi dan manipulasi digital.

Sayangnya, ruang publik kita sering diwarnai oleh emosi ketimbang refleksi. Di media sosial, perdebatan mudah berubah menjadi serangan pribadi; kritik menjadi ejekan; opini disamakan dengan kebenaran. Padahal, esensi berpikir kritis bukanlah menyerang, tetapi mencari pemahaman yang lebih dalam.

Kritik dalam Pendidikan dan Kebudayaan

Dalam dunia pendidikan, warisan kritisisme Kant seharusnya menjadi fondasi utama.
Sekolah dan universitas bukanlah tempat untuk sekadar menghafal teori, tetapi ruang untuk membiasakan diri bertanya dan menimbang. Namun, budaya bertanya sering kali dianggap membangkang. Akibatnya, siswa belajar untuk patuh, bukan untuk berpikir. Padahal, justru dari pertanyaan-pertanyaan itulah tumbuh daya analitis dan kreativitas.

Guru dan dosen perlu menciptakan iklim intelektual yang menghargai keraguan, argumentasi, dan dialog terbuka. Berpikir kritis bukan sekadar kemampuan akademik, tetapi keterampilan hidup dalam masyarakat demokratis.

Kritisisme juga penting di ruang sosial dan politik. Ia menuntut warga untuk tidak mudah percaya pada klaim moral atau jargon pembangunan yang belum diuji rasionalitasnya.
Dalam konteks Indonesia, semangat ini penting untuk meneguhkan etika berpikir di tengah budaya paternalistik dan politik simbolik yang sering menipu kesadaran publik.

Kant pernah menulis semboyan abadi: Sapere aude! — Beranilah menggunakan akalmu sendiri.

Berpikir kritis bukan berarti kehilangan iman, melainkan menegaskan tanggung jawab untuk mencari kebenaran dengan jujur. Ia menuntut kita untuk tenang di tengah hiruk-pikuk, hati-hati di tengah kecepatan, dan rasional di tengah bias algoritma.

Di zaman di mana suara begitu mudah viral namun makna sering hilang, menghidupkan kembali etos kritisisme berarti menyelamatkan rasionalitas manusia itu sendiri. Kritisisme bukan sekadar teori filsafat, tetapi sikap hidup: berani berpikir, berani bertanya, dan berani tidak percaya sebelum mengerti.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Print
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Surprise0
Leave a review Leave a review

Leave a review Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Populer Bulan Ini

20260721 095341
Bibit Pemain Sepak Bola Siap Berlaga Diajang GSI Asahan 2026
20 Juli 2026, 17.54
IMG 20260720 222408
Dugaan Korupsi Seret Dinkes Kabupaten Banjar, Kejari Geledah Kantor dan Sita 48 Dokumen
20 Juli 2026, 22.34
b64aef3c 0611 4575 a009 f17384d9d012
Pemalsuan Dokumen Tanah, Kuasa Hukum PT AGM: “Terdakwa Sudah Beberapa Kali Melakukan Hal Serupa”
21 Juli 2026, 20.20
83f51e18 4109 435a b616 14b65b7d5d3c
Rugikan PT AGM, Terdakwa Akui Surat Tanah Dicetak Mundur Tahun 2017 dalam Sidang di PN Kandangan
28 Juli 2026, 13.22
20260726 193045
Bupati Taufik Sampaikan 3 Pesan kepada 62 Pendeta HKBP yang Baru Ditahbiskan di Asahan
26 Juli 2026, 17.48

You Might Also Like

Wabup Juanda Buka Rakor BIAS 2026, Tekankan Pentingnya Perlindungan Kesehatan Anak Tapin

Semarak HUT ke-81 RI di Desa Lokpaikat Tapin: Dari Jalan Sehat hingga Panjat Pinang Pererat Kebersamaan Warga

Masjid Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Hadir sebagai Ikon Religi Baru Kalimantan Selatan

Hari Jadi ke-76 Kalsel, Gubernur Muhidin Resmikan Masjid Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Paskibraka Asahan 2026 Dikukuhkan

Teras7.comTeras7.com
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
Selamat Datang!

Masuk ke akun

Register Lost your password?