TERAS7.COM – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarbaru terus memperkuat upaya menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Anak Putus Sekolah (APS) dengan menggandeng pemerintah kelurahan hingga elemen masyarakat di tingkat akar rumput.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi yang digelar di Kelurahan Syamsudin Noor, Sabtu (23/5/2026), sebagai upaya membangun sinergi dalam mendeteksi sekaligus menangani persoalan anak putus sekolah di lingkungan masyarakat.
Mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, Drs. Abdul Basid, M.M., Kasi Kelembagaan dan Pendidikan Masyarakat Disdik Banjarbaru, Alfian, M.Pd., mengatakan bahwa persoalan anak putus sekolah tidak bisa dipandang sekadar angka statistik semata.
“Setiap satu anak yang putus sekolah berarti ada masa depan yang harus diselamatkan. Karena itu, kami terus mendorong kolaborasi dengan masyarakat agar persoalan ini bisa ditangani bersama,” ujarnya.
Menurut Alfian, Disdik Banjarbaru saat ini mengoptimalkan keberadaan satu Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Negeri serta tujuh Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) swasta yang tersebar di lima kecamatan sebagai alternatif pendidikan bagi ATS dan APS.
Ia menjelaskan, keberadaan SKB dan PKBM menjadi solusi pendidikan yang lebih fleksibel bagi anak-anak yang terkendala mengikuti pendidikan formal.
Sementara itu, Lurah Syamsudin Noor, Fitria Khairani, SE, MM., menyambut baik langkah Disdik tersebut. Ia menilai keterlibatan RT, RW, serta tokoh masyarakat sangat penting dalam mendeteksi anak-anak yang berpotensi putus sekolah.
“RT dan RW merupakan pihak yang paling dekat dengan masyarakat, sehingga perannya sangat penting untuk melakukan pendataan dan pengawasan di lingkungan masing-masing,” katanya.
Kepala PKBM Angkasa, Achmad Basuni, juga menyatakan kesiapan pihaknya untuk memfasilitasi anak-anak putus sekolah melalui jalur pendidikan kesetaraan.
Dalam diskusi yang berlangsung, peserta turut membahas berbagai faktor penyebab ATS dan APS yang dinilai semakin kompleks. Selain persoalan ekonomi, rendahnya motivasi belajar, kurangnya perhatian orang tua, hingga penggunaan teknologi yang tidak terkendali disebut menjadi tantangan baru dalam dunia pendidikan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan nonformal, dan masyarakat, upaya penanganan anak putus sekolah di Kota Banjarbaru diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.