Puisi M. Amin Mustika Muda
Perempuan pelayan itu terdiam.
Ia tak tahu harus menjawab apa
saat majikannya tiba-tiba berkata,
“Saya ingin kamu melanjutkan pendidikan
ke jenjang yang lebih tinggi.”
Kata-kata itu mengguncang sunyi dalam dirinya.
Ia hanya bergeming,
dan pikirannya segera melayang
ke kampung halaman yang tak tercatat
dalam peta Google.
“Maksud Bapak, saya kuliah?”
“Ya. Kamu tak ingin menjadi pelayan selamanya, kan?”
Suara majikannya terdengar lembut,
tapi membuatnya makin bingung.
Ia tak tahu harus menjawab apa.
Di kampung itu,
cita-cita telah diwariskan dari generasi ke generasi:
menjadi pelayan.
Dua kakak laki-lakinya,
belasan tahun menjadi pelayan di toko bangunan.
Kakak perempuannya,
sejak lulus SMA bekerja di toko buku.
Ia sendiri,
sudah setahun ini melayani pelanggan
di kafe milik majikan yang baik hati.
Dulu, orang tuanya jatuh cinta di pasar besar.
Sama-sama pelayan kios pakaian.
Kakek dan neneknya pun pelayan –
tukang kebun dan tukang masak
di markas tentara semasa penjajahan.
Itulah sebabnya,
sejak kecil ia hanya punya satu cita-cita:
menjadi pelayan.
Ketika majikannya mengulang,
“Kamu tak ingin menjadi pelayan selamanya, kan?”
ia hanya terdiam.
Namun dalam hatinya,
ia menjawab tegas:
“Bukankah saya telah berhasil?
Menjadi pelayan,
seperti kakek-nenek saya,
orang tua saya,
seluruh keluarga dan penduduk kampung kami.
Lalu, cita-cita apa lagi
yang harus saya kejar?”
Oktober 2024
M. AMIN MUSTIKA MUDA, Gemar membaca dan menulis fiksi serta puisi. Bermukim di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Beberapa karyanya pernah terbit di media massa dan buku antologi. Menerbitkan buku puisi: Layang-layang Raksasa Sangkut di Atas Pohon Durian (Tahura Media 2016).