TERAS7.COM – Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu mulai mendorong pelaku usaha kuliner untuk berperan aktif dalam pengelolaan sampah melalui program ramah lingkungan yang diluncurkan dalam peringatan Hari Jadi ke-23 dan Hari Bumi 2026.
Salah satu fokus utama program ini adalah penerapan pengelolaan sampah mandiri, khususnya sampah organik, melalui pemanfaatan lubang biopori. Metode ini tidak hanya berfungsi sebagai resapan air, tetapi juga sebagai sarana pengolahan limbah organik secara sederhana dan berkelanjutan.
Langkah ini dinilai strategis mengingat sektor kuliner menjadi salah satu penyumbang sampah organik yang cukup signifikan. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah tersebut dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Selain itu, pemerintah daerah juga menghadirkan pelatihan pembuatan produk ramah lingkungan berupa sabun berbahan eco enzyme yang dipandu oleh Siti Fatimah dari Eduwisata Rawajati Jakarta.
Bupati Tanah Bumbu, Andi Rudi Latif, menilai bahwa inovasi berbasis lingkungan tidak hanya berdampak pada pengurangan pencemaran, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Pengelolaan sampah yang baik bisa menjadi peluang ekonomi jika dikelola dengan inovasi. Ini bagian dari upaya kita mendorong pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui program ini, pelaku usaha kuliner diharapkan tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam menjaga lingkungan.
Ke depan, pendekatan ekonomi hijau ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan usaha dan kelestarian lingkungan di Kabupaten Tanah Bumbu.