Penulis: Nurhamidi, Rijanti Abdurrachim, dan Isnaniah – Poltekkes Kemenkes Banjarmasin
TERAS7.COM – Masalah gizi pada balita tidak selalu bermula dari ketiadaan makanan. Pengetahuan keluarga mengenai jenis makanan, jumlah, tekstur, frekuensi pemberian, kebersihan, hingga cara merespons anak saat makan ikut menentukan apakah kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi dengan baik.
Karena itu, pencegahan masalah gizi membutuhkan pendampingan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari keluarga.
Salah satu masalah yang masih memerlukan perhatian adalah wasting, yaitu kondisi ketika berat badan anak terlalu rendah dibandingkan panjang atau tinggi badannya.
Di Desa Sungai Kitano, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, masalah wasting menjadi salah satu dasar dilaksanakannya kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan peran kader posyandu.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Banjarmasin mengembangkan kegiatan pelatihan dan pendampingan konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) berbasis pangan lokal. Kegiatan melibatkan kader Posyandu Al-Kausar dan Al-Fitrah serta ibu balita.
Pelatihan dirancang agar kader tidak hanya mendengarkan materi, tetapi terlibat dalam diskusi, studi kasus, role-playing, praktik konseling, serta praktik penyajian menu PMBA berbasis pangan lokal.
Bukan Sekadar Penyuluhan
Kader dilatih untuk mampu mengidentifikasi masalah pemberian makan, menggali hambatan keluarga, mendengarkan ibu secara aktif, menyampaikan informasi dengan bahasa sederhana, dan membantu keluarga memilih solusi yang realistis.
Dengan keterampilan tersebut, kader diharapkan tidak hanya menyampaikan pesan “anak harus makan bergizi”, tetapi mampu mendampingi ibu memahami mengapa anak sulit makan dan apa yang dapat dilakukan di rumah.
Pangan Lokal Tidak Kalah Bergizi
Salah satu pesan penting dalam kegiatan adalah bahwa makanan bergizi untuk balita tidak selalu harus menggunakan bahan yang mahal.
Bahan pangan yang tersedia di sekitar keluarga dapat diolah menjadi menu yang beragam dengan memperhatikan sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, serta tekstur yang sesuai dengan umur anak. Higiene dan keamanan pangan juga menjadi bagian penting dalam praktik.

Ada Perubahan yang Terlihat
Evaluasi kegiatan menunjukkan perubahan yang positif secara deskriptif. Rata-rata skor pengetahuan kader meningkat dari 10,60 menjadi 13,00 dari skor maksimum 15. Enam kader mengalami peningkatan dan empat kader mempertahankan skornya.
Pada ibu balita, rata-rata skor pengetahuan berubah dari 9,00 menjadi 9,20 dari skor maksimum 10, sedangkan proporsi ibu dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 70 persen menjadi 80 persen.
Dari Pelatihan Menuju Pendampingan Keluarga
Hal yang lebih penting dari angka adalah bagaimana pengetahuan tersebut digunakan. Kader memperoleh kesempatan mempraktikkan konseling secara langsung.
Dalam 20 sesi praktik, kader berlatih membuka percakapan, menggali masalah, mengidentifikasi penyebab, menawarkan alternatif pemecahan masalah, melibatkan ibu dalam pengambilan keputusan, serta melakukan pencatatan. Pendekatan ini mengubah posisi kader dari sekadar penerima informasi menjadi pendamping keluarga.
Posyandu sebagai Ruang Belajar Keluarga
Ke depan, konseling PMBA perlu menjadi bagian dari kegiatan rutin posyandu. Kader dapat membantu memberikan edukasi dasar dan memantau praktik pemberian makan.
Apabila ditemukan balita dengan gangguan pertumbuhan, kesulitan makan, atau masalah gizi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, keluarga perlu diarahkan kepada tenaga gizi atau puskesmas.
Membangun Kemandirian dari Desa
Upaya mengatasi wasting tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu kali pelatihan. Masalah gizi dipengaruhi konsumsi makanan, penyakit infeksi, pola pengasuhan, kondisi ekonomi, sanitasi, dan akses pelayanan kesehatan. Namun, memperkuat kader merupakan langkah penting yang dapat dimulai dari desa.
Kader yang terampil, keluarga yang memahami kebutuhan makan anak, pangan lokal yang dimanfaatkan dengan baik, serta posyandu yang aktif dapat menjadi kekuatan bersama untuk mendukung tumbuh kembang balita.
Pemberdayaan masyarakat pada akhirnya bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi membangun kemampuan masyarakat agar menjadi bagian dari solusi masalah gizi di lingkungannya sendiri.