TERAS7.COM – Bocah perempuan berusia 7 tahun jadi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur jadi korban pemerkosaan oleh pria berinisial MNA (19), yang tidak lain merupakan tetangganya sendiri.
Korban yang masih duduk di bangku kelas 1 SD ini diketahui juga mengalami pendarahan hebat pada bagian kemaluannya dan harus mendapatkan perawatan intensif akibat diperkosa oleh pelaku.
“Pelaku sudah kami tangkap setelah orang tua korban melaporkan kejadian ini ke Unit Renakta Satreskrim Polresta Banyuwangi,” ujar Kasatreskrim Polresta Banyuwangi, Kompol Agus Sobarnapraja, dilansir dari Tribrata News, pada Selasa (26/09/2023).
Kasus pemerkosaan ini terungkap ketika ibu korban pulang kerja dan melihat anaknya mengalami pendarahan. Saat mendapat kabar tersebut, ayah korban yang sedang bekerja langsung pulang ke rumahnya.
“Di rumah, ayah korban melihat anaknya mengalami pendarahan parah. Tanpa berpikir panjang, dia membawa anaknya ke RSUD Blambangan untuk mendapatkan perawatan,” jelasnya.
Orang tua sempat menanyai korban, yang awalnya mengaku dicakar oleh kucing. Namun setelah ditanyakan lebih lanjut, korban mengakui jika dia telah diperkosa oleh pelaku.
Peristiwa ini diduga terjadi antara siang dan sore hari. Saat itu, hanya korban dan adiknya yang berusia 5 tahun yang berada di rumah. Sedangkan ibu dan ayahnya sedang bekerja.
Setelah kejadian itu, pelaku segera meninggalkan rumahnya. Pada saat yang sama, keluarga korban mencari MNA yang melarikan diri.
Namun beberapa jam kemudian, MNA berhasil ditemukan di wilayah Kecamatan Giri. Pemuda tersebut kemudian diamankan dan diserahkan ke Polresta Banyuwangi.
“Orang tua korban langsung menanyai pelaku tentang insiden ini. Pelaku tidak membantah bahwa dia telah menyetubuhi korban. Pelaku kini sudah ditahan,” jelasnya.
Akibat perbuatannya, pelaku terancam pasal 81 ayat (1) atau (2) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang No. 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang-Undang dengan hukuman pidana maksimal 15 tahun.