TERAS7.COM – Produksi hasil budidaya komoditas kepiting di Kabupaten Penajam Paser Utara pada semester pertama tahun 2024 cukup besar yakni mencapai sekitar 400 ton.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budi Daya dan Lingkungan, Diskan Kabupaten PPU, Musakkar saat memantau perkembangan budi daya komoditas kepiting di Desa Babulu Laut.
Musakkar bilang, hasil produksi budidaya kepiting di PPU itu seluruhnya dikirim ke luar daerah.
“Itu semua dikirim ke luar daerah,” ujar Musakkar bersama Anggota DPRD Kabupaten PPU, Sujiati.
Menurut Musakkar, banyak faktor dalam proses budi daya kepiting, mulai dari seleksi bibit kepiting yang prima, pengelolaan habitat yang mendukung, pemahaman para pembudidaya tentang nutrisi, hingga perawatan kesehatan kepiting.
Kendati capaian budidaya cukup besar, Musakkar mengatakan, bahwa pengembangan kepiting oleh Kelompok Budi Daya Ikan (Pokdakan) berjalan secara fluktuatif.
“Memang ada kendala yang dihadapi kelompok pembudidaya kepiting, terkait bibit yang harus dipelihara di tambak,” ulasnya.
Adapun kata Musakkar, kendala yang sering dihadapi Pokdakan yakni adanya hama dalam proses pengembangan kepiting.
“Ada hama predator dan hama yang suka mengambil tempat atau wilayah hewan lain,” ungkapnya.
Beberapa hewan seperti burung, ular, dan jenis-jenis ikan tertentu bisa menjadi predator kepiting. Oleh karena itu, penangkalan atau pengendalian hama dan predator harus dilakukan. Penggunaan jaring atau pembatas bisa menjadi solusi untuk mencegah serangan predator.
Dirinya beranggapan, dengan pengelolaan lingkungan yang tepat dan berkelanjutan, budidaya kepiting bisa menjadi usaha yang menguntungkan sekaligus ramah lingkungan.
Pasalnya kata Musakkar, setiap upaya untuk menjaga kualitas lingkungan tidak hanya akan berdampak positif bagi hasil budidaya, tetapi juga bagi ekosistem sekitar dan keberlanjutan usaha budidaya itu sendiri.
“Jadi memang pembudidaya harus saling menjaga,” tukasnya.