TERAS7.COM – Di media sosial sempat beredar keterangan juru bicara nasional untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto yang menyatakan bahwa WHO menyebutkan virus Corona dapat menular melalui udara.
Hal ini dibantah oleh Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro.
“Setelah penelusuran, informasi itu kurang tepat. WHO menyatakan virus corona ditularkan melalui droplet yang dihasilkan oleh seorang terinfeksi corona saat batuk bersin, atau bicara. Virus corona dapat menular melalui droplet orang terinfeksi yang jatuh ke benda sekitarnya dan orang lain terkena benda tersebut dan menyentuh mata, hidung, dan mulut. Karena itu, penting sekali untuk menjaga jarak paling tidak 1,5 meter dari orang sakit,” ujar dia.
Reisa juga memastikan juru bicara nasional untuk Penanganan Covid-19 tidak pernah menyatakan klaim WHO mengungkapkan virus corona dapat melalui udara.
Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengingatkan dalam rangka adaptasi kebiasan baru, pengelola kantor, gedung pertemuan, dan pusat perbelanjaan harus dipastikan memiliki ventilasi atau saluran udara yang baik dengan cross ventilation atau ventilasi dengan dua bukaan yang terletak berseberangan.
“Sehingga meminimalisasi udara stagnan di satu ruangan. Ventilasi silang juga dapat meningkatkan kualitas udara di ruangan serta mendukung gaya hidup produktif dan sehat. Di samping itu, dianjurkan juga agar membiarkan sinar matahari masuk dalam rumah karena dapat meningkatkan kesehatan. Ruangan terpapar ultra violet dapat menurunkan risiko penyakit pernapasan dan tubuh dapat mendapatkan vitamin yang baik untuk tulang dan jantung,” kata Reisa.
Kepala Dinas Kesehatan sekaligus Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Banjar, dr. Diauddin saat dihubungi via Whatsapp pada Sabtu (11/7) juga mengungkapkan hal serupa.
“Pertama penyebaran virus corona melalui itu masih belum di pastikan. Memang virus corona bisa menyebar melalui udara, terjadi hanya pada kondisi tertentu bisa misalnya ruangan sempit, ventilasi kurang, tindakan medis tertentu juga bisa menyebabkan inhalasi. Tentunya kemungkinan penularan melalui udara itu sangat besar, melihat cepatnya penularan yang terjadi,” katanya.
Walaupun begitu, protokol kesehatan yang digunakan untuk mencegah penularan Covid-19 kata Diauddin masih sama dengan yang dulu.
“Protokol kesehatan yang digunakan masih sama seperti penggunaan masker terutama jadi barang wajib yang harus di pakai. Namun dengan adanya kemungkinan ini, kewaspadaan harus lebih berlipat ganda,” sebutnya.

Mengenai pengaturan ventilasi untuk meminimalisir penyebaran Covid-19, terutama di Perkantoran Pemerintahan, Pemkab Banjar melalui Gugus Tugas akan memberikan pengarahan.
“Kita akan lakukan pengarahan,” katanya.
Kasua Covid-19 di Kabupaten Banjar hingga Sabtj (11/7) terus mengalami kenaikan menjadi 403 kasus.
“Total kasus hingga saat ini ada 403 kasus. Yang dirawat 264 orang, sebagian besar menjalani isolasi mandiri dan karantina khusus, hanya sebagian kecil yang dirawat di rumah sakit,” ungkapnya.
Sementara untuk pasien yang sembuh kata Diauddin bertambah menjadi 118 orang dan meninggal dunia menjadi 21 orang.
Kabupateb Banjar sendiri hingga saat ini telah melakukan tes swab sebanyak 2050 tes dengan jumlah yang positif sebanyak 383 orang, negatif 1170 orang, invalid 6 orang dan masih dalam proses sebanyak 524 orang.