Dengan berselancar di website kami, Anda setuju dengan Kebijakan Privasi kami.
Accept
Teras7.comTeras7.com
  • INDEKS BERITA
  • NEWS
    • Nasional
    • Berita Umum
    • Ekonomi
    • Layanan Publik
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Banjir KalSel
  • LIFE
    • Education
    • Lifestyle
    • Teknologi
    • Kilas Balik
  • HEALTH
  • TRAVEL
  • FOOD
Search
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Reading: Pion ‘Berasa’ Raja
Share
Sign In
Notification Show More
Aa
Teras7.comTeras7.com
Aa
Search
  • Indeks Berita
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Budaya
  • Opini
  • Education
  • Ekonomi
  • Video
  • Berita Umum
  • Environment
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Kilas Balik
  • Kuliner
  • Layanan Publik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Religi
  • Sosial
  • Teknologi
  • Travel
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Pion ‘Berasa’ Raja

Opini Bang Asys
Opini Bang Asys 1 Maret 2022, 18.54
Share
over confidence teras7
Banyak orang terkena dunning - kruger effect tanpa menyadari dirinya sudah terlalu jauh terperosok dalam kebodohan (foto : net).
SHARE

Pada Tahun 2003, seorang peserta bernama Warren Wald mengikuti sebuah ajang pencarian bakat Pop Idol di Inggris, mendadak menjadi selebriti setelah ia mengikuti audisi dengan membawakan lagu legendaris era 1980-an milik group Survivor, Eye of The Tiger (Silakan cek di YouTube masih ada tuh!).

Saat audisi di depan para juri ia menyanyikan lagu itu dengan sangat buruk, namun anehnya publik malah mengelu-elukannya.

Warren yang semula hidupnya biasa saja tiba-tiba menjadi berita di beberapa media, diwawancara ke berbagai televisi dan radio, sampai video klip dia bernyanyi menjadi viral di YouTube.

warren
Warren Wald wlaupun bernyayi kurang baik saat audisi namun menjadi viral di publik inggris (foto : screenshot youtube)

Warren tidak tahu persis seberapa buruk kemampuannya bernyanyi, hingga suatu saat penyebab ketenarannya terungkap.

Ketika banyak tawaran masuk, Warren menyadari bahwa dia dipuja publik karena keberanian, tekad, dan keluguannya, bukan karena kemampuan bernyanyinya. Hal ini membuat karir Warren sebagai penyanyi terhenti kemudian.

Baca juga :

Secangkir Kopi dan Pesan dari Sultan: Menemukan Ruh Majapahit di Banjar

Integritas DPR Menentukan Arah Pemilihan

Gemar Menabung, Publik Buntung

Menurut Imam Al-Ghazali, jenis manusia yang paling buruk adalah Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri, yakni seseorang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak berilmu dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu (dari kitab  Ihya‘ Ulumuddin dimana Imam Al Ghazali menukil dari ungkapan Syekh Kholil bin Ahmad-red ).

Ini jenis manusia yang selalu paling merasa mengerti, selalu merasa paling tahu, selalu merasa paling memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya lagi manusia jenis ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu.

Imam Al Gahzali 696x400 1
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat (foto : pesantren.id)

Menghadapi orang yang sok pintar sering kali membuat kita merasa tidak nyaman, atau bahkan kesal. Pernahkah kamu melihat atau malah beradu argumen dengan orang yang penuh percaya diri padahal ia sama sekali tidak memiliki kompetensi dan pengetahuan apa-apa terkait topik yang sedang dibahas? Pastinya hal ini bukanlah hal yang jarang terjadi.

Dalam dunia psikologi, dilansir dari Wikipedia, orang-orang yang merasa dirinya pintar adalah mereka yang sedang mengalami Dunning-Kruger Effect (Teori Dunning-Kruger Effect dikembangkan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999, dua profesor psikologi dari Cornell University-red).

Orang-orang yang terkena efek ini selalu merasa paling unggul akan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya.

Padahal, mereka tidak menyadari bahwa tingkat pengetahuan dan kemampuannya masih berada jauh di bawah orang lain.

dunning.v3 scaled
Orang-orang yang terkena Dunning-Kruger Effect ini selalu merasa paling unggul akan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya.(foto : net)

Dunning-Kruger Effect adalah suatu bias kognitif atau kekeliruan dalam menilai dan berpikir mengenai kemampuan yang dimilikinya. Orang tersebut percaya bahwa ia lebih pintar dan lebih mampu daripada kenyataannya.

Ini terjadi karena kombinasi antara kesadaran diri yang buruk kemampuan kognitif yang rendah sehingga membuatnya terlalu tinggi dalam menilai kemampuan diri sendiri.

Dalam kasus Warren Wald di atas, tanpa sadar publik turut andil menjerumuskannya (dalam bahasa Banjar : “menyelanjurakan ????) ke dalam “jurang kebodohan”.

Publik acapkali memang menggemari, mendukung dan memperjuangkan sesuatu hal yang dianggap underdog.Seberapa sering kita bekerjasama dengan orang yang tidak kompeten dan sehebat seperti apa yang mereka katakan.

Dalam kadar tertentu itu adalah hal yang normal karena kepercayaan diri merupakan salah satu elemen penting dalam pelaksanaan tugas.Tapi masalahnya sebagai bias kognitif Dunning-Kruger Effect dapat menciptakan hal-hal yang sangat merugikan saat ia secara tidak sadar telah menggurita, dan mengakar dalam kehidupan masyarakat kita, sehingga bertumbuhan bak jamur di musim penghujan, entah sebagai ilmuwan gadungan, pakar-pakar bodong, intelektual karbitan, influencer-influencer norak, yang sayangnya acapkali pula mendapatkan dukungan publik yang berlebihan.

Bahkan di level-level pengambil kebijakan, Dunning-Kruger Effect bisa menjadi sangat berbahaya, bukan tidak mungkin Dunning-Kruger Effect merupakan penyebab penyumbang sebagian besar kekacauan dunia.

Mungkin saja bukan masalah perubahan iklim, mungkin saja bukan soal kelebihan penduduk, mungkin saja bukan krisis ekonomi, mungkin bukan pula persoalan minimnya lapangan pekerjaan, bahkan sangat mungkin bukan wabah Covid-19.

Jangan-jangan masalah terbesar kita saat ini adalah terletak pada fake decision making :”the wrong man on the wrong place”

Mbuh, karepmu …

Bang Asys

Seorang anak manusia yang berusaha menulis dengan baik namun selalu terganggu oleh tuntutan dan kondisi kehidupan

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Print
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Surprise0
Leave a review Leave a review

Leave a review Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Populer Bulan Ini

download 5
Tak Patuhi Ketentuan, Sejumlah Warung Kopi di Kertak Hanyar dan Mali-Mali Diberi SP1
4 Agustus 2026, 09.15
IMG 20260806 191642
Supian HK Pastikan DPRD Cari Solusi Atasi Gejolak Perunggasan di Banua
6 Agustus 2026, 19.19
DJI 20260806093249 0177 Dbjbtv
Bye-Bye Macet! Wali Kota Lisa Percepat Pembangunan Jalan Lingkar Selatan Banjarbaru
7 Agustus 2026, 22.15
IMG 20260808 120458
Rumah Janda Dua Anak di Banjarbaru Ini Terancam Digusur, Baskoro Kawal Penyelesaian Sengketa
8 Agustus 2026, 18.17
Compress 20260806 201843 3882 1024x683 1
Kalsel Punya Aset di Jakarta, DPRD Dorong Optimalisasi Guna Dongkrak PAD
7 Agustus 2026, 18.43

You Might Also Like

Secangkir Kopi dan Pesan dari Sultan: Menemukan Ruh Majapahit di Banjar

Integritas DPR Menentukan Arah Pemilihan

Gemar Menabung, Publik Buntung

Rasionalisme di Era Post-Truth: Saat Akal Sehat Jadi Barang Langka

Dari Mitos ke Sains: Empirisme dan Perjalanan Manusia Mencari Kebenaran

Teras7.comTeras7.com
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
Selamat Datang!

Masuk ke akun

Register Lost your password?