TERAS7.COM – Pemerintah Kabupaten Kotabaru melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAPPKB) menggelar Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) 2025. Kegiatan ini digelar di Aula Bamega, Kamis (27/11/2025), dan dihadiri unsur pemerintah daerah, Forkopimda, kecamatan, instansi teknis, hingga mitra pembangunan.
Rakor menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala Pusat Studi Kependudukan ULM Banjarmasin Dr. Norma Yuni Kartika, M.Sc., M.Pd, bersama tim ahli Prof. Dr. Suratno, M.Pd. Hadir pula perwakilan Dinas PMD M. Anshor, MM, serta Ketua Forum CSR Kabupaten Kotabaru yang juga pimpinan PT Arutmin Indonesia NPLCT, Eko Pribadi.
Agenda rapat meliputi evaluasi capaian program penurunan stunting tahun berjalan, identifikasi hambatan di lapangan, serta merumuskan langkah strategis menuju target prevalensi stunting yang ditetapkan pemerintah pusat.
Wakil Bupati Kotabaru sekaligus Ketua TPPS, Syairi Mukhlis, S.Sos., mengungkapkan bahwa angka stunting di Kotabaru berdasarkan SSGI 2024 tercatat 23,2 persen, meningkat dari 20,1 persen pada periode sebelumnya.
“Tentu ini menjadi tantangan kita bersama. Kita harus mengambil langkah strategis agar angka ini dapat ditekan minimal sesuai target provinsi, bahkan jika memungkinkan mencapai target nasional,” ujarnya.
Syairi menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan, DPPPAPPKB, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Ketahanan Pangan, pemerintah desa, hingga pelaku usaha melalui dukungan CSR. Ia juga mendorong pengembangan inovasi digital berupa aplikasi pemantauan gizi balita untuk mempercepat deteksi kondisi balita secara real time.
Selain itu, ia meminta agar anggaran penanganan stunting disusun secara terarah dan terintegrasi. Ia mencontohkan pentingnya optimalisasi program bantuan sosial, penyediaan jamban sehat, bedah rumah, edukasi calon pengantin, penguatan Posyandu, serta gerakan pemanfaatan pekarangan untuk ketahanan pangan keluarga.
Kepala DPPPAPPKB Kotabaru, Ir. Sri Sulistiyani, M.Ph., menyampaikan bahwa stunting masih menjadi isu prioritas nasional karena berpengaruh langsung terhadap kualitas sumber daya manusia menuju generasi emas 2045.
Pada kegiatan tersebut, sejumlah materi dipaparkan, meliputi:
Analisis peningkatan stunting di Kotabaru oleh Prof. Dr. Suratno, M.Pd, analisa perkawinan usia muda dan dampaknya terhadap stunting oleh Dr. Norma Yuni Kartika, optimalisasi peran pemerintah desa dalam konvergensi pencegahan stunting oleh Dinas PMD, serta sinergi pendanaan CSR untuk intervensi gizi spesifik dan sensitif oleh Forum CSR Kotabaru
“Melalui rapat koordinasi ini, kita berharap semakin memperkuat komitmen dan keselarasan program antarinstansi dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kotabaru,” ungkap Sri.
Pemkab Kotabaru berharap rakor ini menjadi momentum mempercepat konsolidasi dan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat.
Hal ini dimaksudkan agar kualitas kesehatan anak dan pembangunan SDM daerah semakin meningkat, serta prevalensi stunting dapat ditekan secara signifikan.