TERAS7.COM – Dampak banjir yang merendam wilayah Kecamatan Sungai Tabuk selama beberapa hari terakhir mulai memunculkan persoalan kesehatan bagi warga terdampak.
Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar mencatat penyakit kulit menjadi keluhan paling dominan yang dialami para pengungsi, Kamis (08/01/2026).
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, dr. Widya Wiri Utami, menyebutkan kondisi genangan air yang berkepanjangan serta keterbatasan air bersih menjadi faktor utama munculnya gangguan kesehatan tersebut.
“Keluhan terbanyak yang kami temukan adalah penyakit kulit seperti gatal-gatal dan belancat. Saat ini bahkan sudah mulai mengarah ke infeksi kulit karena banjir berlangsung cukup lama,” ujarnya
Ia menjelaskan, infeksi kulit tidak hanya menyerang bagian kaki, namun juga menyebar ke bagian tubuh lain. Gejalanya ditandai dengan kemerahan, iritasi, hingga rasa perih pada kulit.
Selain penyakit kulit, gangguan kesehatan lain yang cukup banyak dikeluhkan warga pengungsian adalah tekanan darah tinggi. Kondisi ini dipicu oleh kurangnya waktu istirahat serta situasi pengungsian yang tidak nyaman.

“Banyak warga yang mengalami hipertensi karena kurang tidur dan kelelahan. Kondisi seperti ini cukup memengaruhi tekanan darah,” ungkapnya.
Meski sebagian besar kasus tidak tergolong berat, dr. Widya menegaskan penyakit kulit tetap memerlukan penanganan medis agar tidak berkembang menjadi lebih parah.
“Tidak berbahaya, tetapi harus tetap diobati. Kebersihan kulit sulit dijaga karena keterbatasan air bersih, ini yang menjadi pemicu utama,” tegasnya.
Untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar bekerja sama dengan puskesmas serta pos kesehatan desa di lokasi pengungsian. Layanan kesehatan dibuka setiap hari kerja dengan dukungan ketersediaan obat-obatan.
“Kami pastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dan obat-obatan, khususnya salep untuk penyakit kulit, selalu tersedia,” jelas dr. Widya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri semampu mungkin di tengah kondisi banjir, sembari menegaskan fokus utama saat ini adalah pengobatan warga terdampak agar tidak terjadi komplikasi kesehatan lebih lanjut.
“Dalam situasi banjir memang sulit melakukan pencegahan maksimal, sehingga kami fokus pada penanganan dan pengobatan,” pungkasnya.