TERAS7.COM – Meluasnya wabah superflu di sejumlah provinsi sejak awal Januari 2026 turut menjadi perhatian, khususnya di Kalimantan Selatan.
Provinsi ini tercatat masuk dalam sepuluh besar nasional dengan temuan puluhan kasus influenza A (H3N2) subclade K, yang belakangan dikenal dengan sebutan Superflu.
Menanggapi kondisi tersebut, Guru Besar Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Profesor Syamsul Arifin, mengimbau masyarakat tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan.
Menurutnya, hal terpenting mencegah wabah tersebut masuk yakni deteksi dini melalui pemeriksaan rutin ke fasilitas kesehatan, mengingat gejala superflu kerap menyerupai influenza biasa.
Menurut Syamsul, observasi medis diperlukan untuk memastikan penanganan yang tepat.
Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi langkah pencegahan utama supaya penyebaran virus tidak semakin meluas.
“Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, serta menjaga daya tahan tubuh sangat penting. Dengan langkah-langkah ini, insyaallah virus tidak berkembang lebih cepat,” ujarnya kepada wartawan.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan mencatat lebih dari 20 warga teridentifikasi terinfeksi influenza A (H3N2).
Meski Kalsel berada di peringkat kedua tertinggi secara nasional, Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin, memastikan kondisi tersebut masih terkendali.
Ia menegaskan, superflu bukanlah penyakit baru dan tidak tergolong berbahaya.
“Ini merupakan jenis influenza musiman dan tidak membahayakan hingga menyebabkan kematian,” jelasnya.
Dinas Kesehatan memastikan hingga kini belum ditemukan kasus superflu di Kalimantan Selatan yang memerlukan perawatan inap.
Pemantauan terus dilakukan sembari mengintensifkan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan penanganan influenza musiman.