Dengan berselancar di website kami, Anda setuju dengan Kebijakan Privasi kami.
Accept
Teras7.comTeras7.com
  • INDEKS BERITA
  • NEWS
    • Nasional
    • Berita Umum
    • Ekonomi
    • Layanan Publik
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Banjir KalSel
  • LIFE
    • Education
    • Lifestyle
    • Teknologi
    • Kilas Balik
  • HEALTH
  • TRAVEL
  • FOOD
Search
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Reading: Idul Fitri Indonesia: Dari Ritus Islam ke Tradisi Peradaban Nasional
Share
Sign In
Notification Show More
Aa
Teras7.comTeras7.com
Aa
Search
  • Indeks Berita
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Budaya
  • Opini
  • Education
  • Ekonomi
  • Video
  • Berita Umum
  • Environment
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Kilas Balik
  • Kuliner
  • Layanan Publik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Religi
  • Sosial
  • Teknologi
  • Travel
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Idul Fitri Indonesia: Dari Ritus Islam ke Tradisi Peradaban Nasional

Opini
Opini 22 Maret 2026, 19.34
Share
IMG 20260322 WA0008
Jenderal TNI (Purn) Prof Dr AM Hendropriyono, S.T., S.H., M.H (tengah) seusai acara silaturahmi 1 Syawal 1447 H di Kraton Majapahit bersama Sultan Banjar dan warga Banjar di Jakarta (foto : ist/teras7.com)
SHARE

Oleh: Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono, Pendiri Kraton Budaya Majapahit Jakarta.

Pendahuluan

Idul Fitri sebagai ajaran Islam bersifat universal, dengan cara mengekspresikannya yang khas di Indonesia dalam bentuk tradisi sosial dan kenegaraan, sehingga memberikan sumbangan penting bagi peradaban Islam dunia. Masyarakat bangsa Indonesia telah mengangkat Idul Fitri dari ritual ibadah menjadi mekanisme rekonsiliasi nasional.

  1. Sejarah Universal vs Formulasi Indonesia

Secara teologis, Idul Fitri berasal dari ajaran Nabi Muhammad sebagai penutup Ramadan. Beberapa praktik yang kini dianggap “identik” dengan Idul Fitri, seperti halalbihalal, ungkapan “mohon maaf lahir dan batin”, silaturahmi nasional lintas status, dan institusionalisasi rekonsiliasi sosial, tidak lahir di Jazirah Arab, melainkan berkembang kuat di tanah tumpah darah kita, Indonesia.

  1. Peran Negara di Era Presiden Sukarno

Pada masa awal Republik di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno, bangsa Indonesia menghadapi konflik ideologi antara kaum nasionalis, Islam, dan kaum komunis yang menjadikan fragmentasi sosial yang serius pada era pascakemerdekaan. Kebutuhan yang dirasakan mendesak oleh semua pihak terhadap rasa persatuan memunculkan praktik halalbihalal yang diprakarsai oleh Kementerian Agama RI dan para tokoh bangsa serta difasilitasi oleh negara.

Baca juga :

Sinergi Kebangsaan Perlindungan Konsumen: Kuatkan Peran LPKSM dan 29 Kementerian/Lembaga Lewat Inovasi Digital

Mengupas MBG: Manfaat Besar, Pengawasan Harus Lebih Besar

Analisis Ekonomi Strategis dan Kedaulatan Nasional

  1. Makna Strategis Halalbihalal

Bukan sekadar silaturahmi, tetapi rekonsiliasi politik dan sosial untuk menghapus dendam pascakonflik, menyatukan elite dan rakyat dalam satu forum moral. Dalam literatur sejarah, halalbihalal berkembang sekitar tahun 1949 sebagai solusi budaya untuk mengatasi kebuntuan komunikasi politik. Dengan demikian, negara melalui struktur Kementerian Agama RI menginstitusionalisasikan Idul Fitri sebagai alat pemersatu bangsa.

  1. “Mohon Maaf Lahir dan Batin” sebagai Inovasi Kultural Indonesia

Ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” adalah formulasi khas Indonesia yang melampaui konsep Arab klasik tentang ‘afw (maaf), karena mencakup dimensi sosial (lahir) sekaligus dimensi psikologis dan spiritual (batin). Moralitas kolektif tersebut merupakan formulasi filosofis Nusantara yang menyatukan etika Islam dengan budaya nasional seperti rasa empati, simpati, dan nilai gotong royong. Dengan demikian, bangsa Indonesia telah melahirkan bahasa moral kolektif yang sangat kuat di dunia.

  1. Sungkem dan Salim: Integrasi Islam dan Budaya Nusantara

Tradisi sungkem (bersujud kepada orang tua) dan salim (cium tangan) merupakan integrasi antara ajaran Islam tentang birrul walidain (bakti kepada orang tua) dan budaya Nusantara yang menekankan hierarki moral serta penghormatan. Yang menarik adalah bahwa dalam Islam Arab, penghormatan kepada orang tua bersifat normatif, sedangkan dalam budaya Indonesia menjadi ritus simbolik yang sangat konkret dan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar menganut Islam sebagai agama, tetapi mengolahnya menjadi peradaban yang berwujud rasa batin yang mendalam.

  1. Idul Fitri sebagai Mekanisme Rekonsiliasi Nasional

Di Indonesia, Idul Fitri berkembang menjadi ritual rekonsiliasi nasional tahunan dalam forum penyatuan elite politik dengan masyarakat, yang menjadikannya sebagai mekanisme informal bagi penyelesaian berbagai konflik. Tradisi seperti Open House Presiden RI memperkuat fungsi ini, dengan rakyat bertemu pemimpin tanpa sekat hierarki sosial sehingga rasa kebangsaan semakin kuat. Dalam perspektif filsafat intelijen, hal tersebut merupakan instrumen stabilisasi sosial yang berbasis budaya bangsa, bukan berbasis kekuasaan politik.

  1. Perbandingan dengan Tradisi Bangsa Lain

Jika dibandingkan dengan Nowruz di Iran yang bertema pembaruan alam, Chinese New Year yang bertema kemakmuran dan penghormatan kepada leluhur, serta Tahun Baru Tết di Vietnam tentang keharmonisan keluarga, Idul Fitri di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Rekonsiliasi moral terstruktur yang merupakan ritual nasional telah memberikan kontribusi Indonesia yang luar biasa kepada dunia Islam. Tradisi Idul Fitri telah menghayatkan keyakinan terhadap Islam menjadi sistem sosial yang hidup dalam masyarakat bangsa kita.

Penutup

Idul Fitri yang lahir dari ajaran Islam universal di Indonesia telah terhayati sebagai tradisi sosial yang penuh empati dan rekonsiliasi yang penuh keharuan, sehingga mencapai bentuknya yang paling matang di Indonesia. Peran negara melalui pendekatan kultural telah mentransformasikan ritual menjadi institusi sosial dan menjadikan maaf sebagai kekuatan nasional. Ajaran dunia tentang Idul Fitri telah berkembang di Indonesia sebagai pusat peradaban nasional yang luhur.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Print
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Surprise0
Leave a review Leave a review

Leave a review Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Populer Bulan Ini

83f51e18 4109 435a b616 14b65b7d5d3c
Rugikan PT AGM, Terdakwa Akui Surat Tanah Dicetak Mundur Tahun 2017 dalam Sidang di PN Kandangan
28 Juli 2026, 13.22
20260726 193045
Bupati Taufik Sampaikan 3 Pesan kepada 62 Pendeta HKBP yang Baru Ditahbiskan di Asahan
26 Juli 2026, 17.48
download 5
Tak Patuhi Ketentuan, Sejumlah Warung Kopi di Kertak Hanyar dan Mali-Mali Diberi SP1
4 Agustus 2026, 09.15
IMG 20260806 191642
Supian HK Pastikan DPRD Cari Solusi Atasi Gejolak Perunggasan di Banua
6 Agustus 2026, 19.19
DJI 20260806093249 0177 Dbjbtv
Bye-Bye Macet! Wali Kota Lisa Percepat Pembangunan Jalan Lingkar Selatan Banjarbaru
7 Agustus 2026, 22.15

You Might Also Like

Sinergi Kebangsaan Perlindungan Konsumen: Kuatkan Peran LPKSM dan 29 Kementerian/Lembaga Lewat Inovasi Digital

Mengupas MBG: Manfaat Besar, Pengawasan Harus Lebih Besar

Analisis Ekonomi Strategis dan Kedaulatan Nasional

Analisis Defensif Politik: Membedah Pola Pikir Tendensius di Balik Pencarian Aktor Intelektual

Ketika Perundungan Anak Berujung Saling Lapor, Di Mana Kepentingan Terbaik Anak?

Teras7.comTeras7.com
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
Selamat Datang!

Masuk ke akun

Register Lost your password?